Rezeki Itu Datang Dari Allah SWT

21 12 2008

Kemarin malam, saya baru pulang dari Bandung, untuk mengunjungi satu-satunya keluarga kandung saya di Bandung, yaitu Ibu saya. Seperti biasa, beliau menyambut saya dengan berjuta kasih sayang yang tidak pernah berkurang bahkan bertambah setiap tahunnya. Bulan Desember dan Juli adalah bulan kami untuk bertemu, krn pada bulan itulah, Ibu saya dilahirkan (Juli) dan saya dilahirkan (Desember).

Cerita sepanjang hari, menyaksikan televisi sepanjang hari (takjub sekali saya dengan channel TV yang sudah bertambah, infortainment yang masih mendominasi, acara2 kuis yang heboh2, dan tidak lupa berita demonstrasi, ajaran2 sesat (Lia Eden ditangkap kala itu) dan acara kuliner yang semakin menarik.

Saya mencintai Indonesia. Saya ingin kembali ke tanah air suatu hari nanti.

Ibu saya cuma tersenyum. Sudah, ikut takdir Allah saja, ujarnya lembut. Saya pun tersenyum. Setiap tahun saya mengucapkan kalimat yang sama, tetapi kenyataannya, pesawat Air Asia selalu membawa saya kembali ke Malaysia.

Kepulangan saya kali ini, seperti biasa adalah terapi untuk hati dan jiwa saya. Ibu saya selalu punya sesuatu yang baru untuk saya renungkan. Kali ini, kalimat Ibu yang renungkan adalah “Rezek itu datang dari Allah, nak”.

Kalimat sederhana, tetapi untuk saya besar maknanya. Sebagai seorang pegawai bidang pendidikan yang di pimpin oleh non muslim, maka iklim yang diciptakan adalah kompetisi bagi setiap orang di Kolej saya. Kompetisi dari segi manajemen tentunya baik. Karena kompetisi akan melahirkan ttekanan dan dari tekanan itulah, usaha terbaik seorang manusia akan tercipta secara natural.

Akan tetapi, kompetisi juga melahirkan sifat2 yang ‘instant’, demi sebuah kekuasaan atau uang, maka seseorang akan mampu untuk menempuh jalan singkat demi mendapatkannya. Keadaan inilah, yang mampu melengahkan jiwa yang beriman. Pada si satu titik tertentu, dimana arus kompetisi semakin menguat, akankan jiwa yang beriman akan mampu untuk tetap konsisten, bahwa hasil akhir adalah di tangan Allah SWT?

Akankah jiwa yang beriman akan selalu ingat, bahwa kemampuan maksimal yang sudah diupayakan, sesungguhnya bisa berubah menjadi ‘minimal’ apabila Allah SWT menghendakinya.

Akankah jiwa yang beriman akan mampu untuk mengingat bahwa titik tujuan dari kompetisi ini adalah Allah SWT, bukan Boss kita..?

Sungguh, kalimat Ibu saya sangat simple, sederhana. Tetapi saya yang tengah berada di arus kompetisi yang luar biasa derasnya, menjadi sujud tafakur, Ya Allah…sesungguhkan kemenangan atau kekalahan yang kudapatkan adalah dengan izinMu.

Saya yang bekerja keras selama 12 jam/hari, kadang lebih, sesungguhnya adalah untuk menggapai ridhoMu. Bukan untuk menggapai ridho Boss-ku.

Sungguh Ibu saya sudah sukses men’terapi saya kali ini dengan kalimat sederhananya. Dan terapi ini, semakin dikukuhkan oleh channel TV yang saksikan di MetroTV, acara yang dipandu oleh Bapak Mario Teguh dengan judul “A shoulder to Cry On”.

Seorang penanya berujar(kurang lebih demikian) : “Bagaimana caranya seorang pribadi mempunyai kepercayaan diri yang tinggi, sementara dia merasa tidak demikian.”

Jawapan Bapak Mario Teguh berkata: Selama anda memiliki NIAT yang BAIK, maka anda akan percaya diri. Karena itu, anda perlu mempunyai NIAT yang BAIK selalu”. (kurang lebih demikian yang dikatakan beliau).

Kembali itu adalah terapi untuk saya. It works.

Yuk, mari kita mulai hari ini dengan sebuah NIAT yang BAIK. Dengan mengerahkan seluruh daya upaya pemikiran, pengetahuan dan kerja keras, kepercayaan diri akan terwujud. Insya Allah….

Selamat Berkerja dan Berkarya, kawan2 ..:-)
Jangan lupa Rezeki itu datang dari Allah SWT…





Quotes of the day

24 11 2008

To live is to risk dying
to hope is to risk despair
to try is to risk failure
but risks must be taken
because the greatest hazard in life is to risk nothing 

The pessimist complains about the wind;

the optimist expects it to change;

and the realist adjusts the sail

 

 

(quote from Dr. William A. Ward)





Wisuda, tanda sempurnanya tugas kita…

23 11 2008

 

Tanggal 22 November kemarin, sayimage087a memenuhi undangan dari Universiti Teknologi Malaysia untuk datang ke acara Wisuda bagi mahasiswa “Kolej Kerjasama dengan UTM”. Acara tersebut di adakan di kampus UTM, Skudai, Johor.

Saya menyempatkan datang, karena mahasiswa yang di wisuda kali ini memiliki hubungan yang sangat erat dengan saya. Sejak mereka disemester 1, hingga semester 5, saya selaku Ketua Jurusan kala itu selalu mendampingi mereka, baik dalam pelajaran (saya mengajar mereka setiap semester selama 5 semester) maupun dalam kehidupan pribadi (saya juga bertindak selaku mentor bagi mereka).

Saya masih ingat, di semester 1, ada yang menangis kala itu, karena ‘terkejut’ dengan sistem pendidikan di Perguruan Tinggi, mana mereka jauh dari orang tuanya (tinggal di asrama Kolej). Mereka sempat merasa ‘home sick’, tidak fokus belajar, tidak tahu bagaimana harus membawa diri, dsb. Saya lah yang membimbing mereka kala itu, memotivasi, menemani belajar di Perpustakaan dan sebagainya. Bahkan saya menyempatkan ‘online’ di Yahoo Messanger untuk memastikan mereka baik2 saja dan membuat tugas2 yang diberikan oleh Dosen mereka hari itu.

Tahun kedua, saya masih mendampingi mereka. Ada mahasiswi yang tahun pertama sangat berprestasi, tetapi di tahun ke dua ini, mundur tajam. Saya yang terus memonitor mereka, sempat memanggil mahasiswi ini dan menanyakan mengapa prestasinya mundur.

Ternyata pelajaran di tahun ke dua kebanyakan teori, sedangkan dia lebih menyukai programming dan matematika. Saya cuma tersenyum, akhirnya saya memakai akal sedikit untuk membantunya. Setiap ketemu saya, baik di jalan, di kampus, di cafe atau di manapun, dia harus menghapal semua materi yang diajarkan pada hari itu. Kebetulan saya cukup arif dengan matakuliah tersebut, jadi saya bisa menanyakan apa saja. Akhirnya, mahsiswi ini lulus tahun ke dua, masuk tahun ke tiga.

Di tahun ke tiga, saya cuma mendampingi mereka selama satu semester saja, yaitu di semester 5. Karena ketika mereka masuk ke semester 6, saya menjalankan tugas sebagai Dekan, jadi waktu saya banyak tersita ke arah tugas2 fakultas. Mereka sempat menangis, saya tidak bisa apa-apa. SMS dan chatting menjadi media saya untuk memastikan bahwa mereka baik2 saja.

Akhirnya, di tanggal 22 November 2008 ini, mereka di wisuda. Saya tidak menyangka, rasa haru saya melebihi tahun2 sebelumnya. MUngkin karena hubungan saya dan mereka yang sudah terlampau erat. Begitu nama mereka di panggil di atas pentas, air mata saya menggenang. Ya Allah, sudah selesai saya tunaikan tugas saya bagi mereka.

Usai acara wisuda,  saya beramah tamah dengan keluarga mereka. Ribuan terima kasih dan rasa hormat di sampaikan oleh para orang tua kepada saya. Saya semakin terharu dan menitikkan air mata. Kami ber foto-foto, bersalaman, berpelukan (tentu saja yg perempuan he he he). Hujan deras di Skudai kala itu tidak menghalangi kami untuk saling menyapa dan bergembira.

Saya sendiri punya kejutan yang manis, karena seorang kawan saya, namanya Iffah (asal Indonesia) yang suaminya menjadi Dosen di UTM menyempatkan datang. Lengkaplah kegembiraan saya hari itu. Sungguh 22 November adalah hari yang sempurna. Terima kasih ya Iffah….sayang sekali perjumpaan kita sangat singkat.

Ketika saya berpamitan, saya kembali memandang lekat2 mata mahasiswa/i saya. Masya Allah, mereka sudah di wisuda. Mereka sudah berhasil meraih apa yang diimpikan. Mereka sudah membawa ‘value’ seorang Sarjana yang sudah di tempa untuk menghadapi tantangan hidup di luar sana. Idealnya mereka adalah seorang sarjana yang tangguh, tabah, berketerampilan tinggi dan kompetitif. Dan saya menjadi bagian dari perjalanan mereka. Subhanallah. Semoga Allah melindungi mereka semua, dan semoga Allah menerima hasil kerja saya ini sebagai ibadah di mataNya, amiiiiiiiin.

Wisuda…….. sebuah tanda, tugas kita sebagai pendidik telah selesai. Dan kini saatnya kembali ke kampus, untuk mendampingi mahasiswa/i lainnya, tentu saja dengan tantangan yang berbeda.

Bismillah………





Academics vs Commercials

9 11 2008

Aku dan para Dekan di acara WisudaSaya rasa dunia pendidikan akan terus menerus menghadapi dilema untuk memposisikan diri terhadap aspek komersial. Tidak hanya di Perguruan Tinggi Swasta and Perguruan Tinggi Negeri di Indonesia, tetapi juga Perguruan Tinggi Swasta dan Negeri di Malaysia.

Saya ingat ketika itu saya bekerja di sebuah Univ Swasta di Bandung, di Jalan Halimun tahun 1996 hingga 2002. Pertikaian tajam terjadi di antara kalangan akademik dengan Yayasan. Yayasan tentu saja berfikir bagaimana caranya investasi yang mereka tanamkan di sebuah PTS akan kembali atau menyentuh break event point. Sedangkan kalangan akademik berfikir bagaimana caranya menjaga mutu dan kualitas, agar lulusan yang dihasilkan mampu di serap oleh industri.

Pertikaian biasanya terjadi ketika kalangan akademis mulai melihat perlunya ‘pengembangan’ atau development di sebuah fakultas/jurusan, demi memenuhi tuntutan industri yang bergerak cepat. Permohonan pengembangan tersebut harus di luluskan oleh Yayasan, yang tentunya Yayasan secara otomatis akan melihat segi efisiensi dari permohonan tersebut. Disinilah jalan tengah perlu di musyawarahkan. Disinilah kemampuan untuk berkomunikasi berujung kepada dua kemungkinan, sepakat atau tidak sepakat. Dan disinilah, biasanya pihak Yayasan akan duduk berseberangan dengan pihak akademis.

Bukan saja mengenai pengembangan, ada banyak hal lainnya yang menyebabkan pihak akademis berseberangan dengan Yayasan. Intinya, kedua kubu ini ada kalanya saling bertemu dan berjabatan tangan dan banyak kali bertemu tetapi lain haluan. Akankah ada jalan tengah yang dapat di terima oleh Kalangan Akademis dan juga oleh Aspek Komersial..? Rasanya sulit sekali, karena jalan tengah artinya ada kompromi. Kompromi artinya berbagi, membelah sebuah idealisme untuk mengakomodasi idealisme yang lainnya, yang datang dari dunia dengan aspek fikiran yang berbeda.  

Beberapa minggu yang lalu, hal yang serupa terjadi di Kolej saya. Dalam menjalani tugas sebagai Dekan, saya banyak berurusan dan mengetahui kemelut yang terjadi di kalangan top management. Berbeda dengan di Indonesia (di Bandung tempat saya bekerja dulu tepatnya), pihak Yayasan di Kolej saya ini, terjun langsung ke dalam dunia akademis. Mereka duduk sebagai Managing Director (pimpinan tertinggi, pemegang immunity) dan seorang lagi terjun sebagai Pembantu Rektor 2.

Berdasarkan pengamatan saya, hanya Rektor dan Pembantu Rektor I yang biasanya menyuarakan dan memelihara keseimbangan di setiap kemelut Akademis dan Komersial. Di bawah jajaran top manegement ini, terdapat posisi Direktur Akademik yang membawahi para Dekan. Nah, Direktur Akademik ini, berdasarkan pengamatan saya, lebih banyak melihat aspek komersial di bandingkan yang seharusnya. Jadilah tugas itu bertumpu kepada Dekan, untuk menjalankan setiap keputusan yang diambil oleh para top management. Dekan boleh bersuara, tetapi kuputusan sudah di ambil. Suara Dekan hanyalah berupa justifikasi dari implementasi ke bawah. Berapa lama keputusan itu bisa dijalankan, bagaimana dampaknya, dan seterusnya.

Bayangkan jauhnya kedudukan para Dosen dari segi ini. Dosen hanya fokus untuk mengajar, memastikan kurikulum berjalan seperti yang sudah di gariskan dan mampu memberikan yang terbaik kepada para mhs. Kadang saya memandang Dosen2 saya dengan rasa Iba, krn mereka menjalankan sesuatu yang sesungguhnya dari segi akademis sangat bertentangan.

Satu hari, saya melihat bagaimana Pembantu Rektor I berjuang sendirian dalam mempertahankan kualitas akademik. Rektor entah di mana, tetapi saat itu, rektor tidak mampur berbuat apa-apa.

Masalahnya sederhana, kami tengah menjalankan Franchise Program dengan Univ of East London. Seperti yang sudah di sepakati selama ini, masa pendaftaran mahasiswa adalah hingga tanggal X. Sesudah tanggal X, pendaftaran di tutup dan nama mhs sudah di kirimkan ke London. Franchise program mengharuskan kami berjalan secara paralel dengan London, baik dari segi waktu dan kualitas penyampaian program tersebut.

Pada tanggal Y, terdapat sejumlah mahasiswa international (dari benua Afrika dan Middle East) yang belum mendaftar pada waktunya karena masalah keuangan. Jumlahnya ada 21 orang. Karena kuliah sudah mulai selama 3 minggu, tentu saja pendaftaran sudah di tutup. Tetapi, top management punya pandangan lain, Kuliah BARU MULAI 3 minggu. Tidak ada salahnya, 21 mhs ini mendaftar karena masalah keuangan mereka sudah mampu di atasi. Pada hari Y itu, Pembantu Rektor I membuat keputusan, ke 21 orang mhs tersebut akan mendaftar semester berikutnya, bukan semester ini. Jadi status mereka adalah postpone semester atau cuti selama satu semester. Hal itu bisa mengerti, karena kuliah sudah mulai, Dosen2 pun sudah mengajar paling tidak 1-2 bab. Agak susah untuk mengulang semua materi karena datangya 21 orang mhs ini.

Tetapi ternyata, keputusan Pembantu Rektor I tidak menyenangkan hati top management. Sesudah bertikai dengan tajam, akhirnya, keputusan tersebut di OVERRULED oleh top management. Ke 21 orang mhs tersebut di bolehkan masuk ke dalam kuliah. Masalah bagaimana caranya menyesuaikan pelajaran yang tertinggal, diserahkan kepada Fakultas. Dalam hal ini Dekan. Dalam hal ini Dosen. Kami semua.

Saya ketika itu, agak terkejut, ketika ada  4 orang mhs yang mendaftar di minggu ke-4 kuliah. (dari 21 mhs, 4 orang mhs adalah fakultas saya).

Bagaimana mungkin…? Tetapi keputusan sudah di buat. Saya cuma memandang Pembantu Rektor I tanpa mampu berkata apa-apa. Yah 21 orang x RM 23.000 memang jumlah yang significant. Saya cuma terpekur dan dengan sedih saya harus menyelenggarakan rapat Dosen khusus untuk mengatur ini semua.

Berat mata memandang, lebih berat bahu yang memikul. Itulah kata kiasan saya untuk menggambarkan kalutnya Dosen2 saya menerima kenyataan ini. Saya sendiri mengajar satu matakuliah di sem akhir, terdapat satu mhs yang masuk kuliah saya dari ke 4 mhs tersebut. Hingga hari ini, mhs tersebut memang tunggang langgang untuk mengejar ketinggalannya.

Yah…..inilah dunia akademik. Yang akan terus tertatih tatih untuk memposisikan dirinya terhadap dunia komersial.

** foto di atas adalah foto saya, di antara para Dekan lainnya di sebuah acara Wisuda**





(selingan) Yoga-ku

6 11 2008

yoga1

gambar dari google.com

Sebulan lebih saya rutin melakukan senam Yoga, di down town Mantin seminggu dua kali. Pertama kali rasanya badan seperti di tarik tarik, krn senam ini lebih kepada pernafasan, keseimbangan badan dan ’stretch’. Salah satu bagiannya adalah Yoga Fat Burner yang mengharuskan tangan dan kaki dalam posisi tengkurap untuk menahan tubuh ‘melayang’ selama 3 menit. Lumayan gobyos, kata orang Jawa. Gobyos itu berkeringat banyak.

Yang menyentuh hati saya adalah, ternyata senam Yoga yang saya ikuti ini (instrukturnya Chinese), banyak melakukan gerakan ruku dan sujud. Seperti melakukan sholat saja. Bedanya, ketika melakukan Yoga, saya mendengarkan dan menikmati musik yang sungguh manis, perlahan dan menenangkan. Sedangkan dalam sholat, saya banyak memuji namaNya.

Singkat kata, Yoga membuat saya tenang, bugar, release stress dan tentu saja untuk kesehatan. Semoga kebugaran ini mampu menunjang tugas-tugas saya di hari-hari sibuk yang tidak menentu. Saking banyaknya kerja yang harus di lakukan, kawan saya bilang ” sampai pensiun pun kerja ini tidak pernah habis”. Ha ha ha….iya, betul juga.

Sekarang ini, fakultas saya tengah overlapping tugas dari menyiapkan soal-soal Final Exam, menyiapkan Course File karena MQA (kalau di Indonesia BAN)-proses akreditasi tengah berjalan, ada juga jurusan yang sudah melakukan FInal Exam, jadi tengah marking process dan satu jurusan lainnya tengah menyelesaikan coursework mark yang menuntut redo tugas bagi mhs berkali-kali, krn mhs banyak yang tidak membuat tugas2 mereka secara sungguh-sungguh.

Nah……….di tengah kemelut ‘arus lalu lintas’ fakultas-ku…………dimana best place to escape..?

Yoga lah..:-))





Menikmati Turunnya Harga Bensin di Malaysia

30 10 2008

Meskipun turunnya cuma 15 sen, tapi ya lumayannnnnn……….

 

Sumber : www.malaysiakini.com





Leader or Manager..?

29 10 2008

Di bandingkan dengan para Dekan di Kolej saya saat ini, mungkin saya masuk kategori Dekan yang tidak agresif. Maksudnya,saya tidak agresif dalam ‘menyergap’ santapan baru di kalangan top management setiap minggunya. Bukan berarti saya tidak ‘care’ tetapi lebih karena saya memilih untuk bekerja ke dalam. Saya memilih untuk fokus kepada informasi yang ‘masuk’ ke dalam fakultas, yang tentu saja harus saya follow up, daripada  informasi yang ‘keluar’ dari fakultas.

Mengapa demikian ?

Informasi yang keluar dari fakultas biasanya sudah di sertai bumbu2 yang membuatnya lebih ‘heboh’ dari kenyataan sebenarnya.  Karena itu saya tidak boleh dengan cepat percaya akan informasi tersebut. Dan jika informasi tersebut berkaitan dengan fakultas saya , demi menetralisir hal ini, maka saya dituntut untuk bertutur kata dengan hati-hati dan penuh strategi untuk menjaga nama baik fakultas. Karena pernyataan resmi seorang Dekan akan di jadikan referensi di masa mendatang. Disinilah saya belajar untuk ’sensitif’ kepada kemungkinan yang tidak baik, termasuk unsur politik. Hmm…mengenai politik, selain karena saya tidak pandai dibidang ini, saya juga memutuskan untuk tidak bermain politik, meskipun saya dituntut untuk tetap waspada. Kata-kata kerennya : Be sensitive about politic but do not play.

Kadang saya berhasil membawa misi saya itu, tetapi ada kalanya juga saya gagal. Kadang saya begitu letih, dan emosi saya memuncak. Kala itulah, kejadian yang tidak diinginkan bisa terjadi. Setiap kejadian membawa kesadaran pada saya, betapa pentingnya bertutur kata. Betapa pentingnya berbudi bahasa. Betapa pentingnya untuk mampu terus menerus ‘cool’ ketika keadaan memanas. Seperti layaknya gunung, semakin tinggi gunung itu, puncaknya akan semakin bersalju, alias makin dingin.

Sampai saat ini, memasuki bulan ke-8 saya menjadi Dekan, saya berusaha sekuat tenaga untuk menjadi Dekan terbaik yang saya mampu. Menjaga tutur kata saya, prasangka saya dan tetap mengasah otak saya untuk mampu secara cerdas menyelesaikan masalah.

Kadang saya bertanya kepada diri saya sendiri..? Am I a leader..? Rasanya saya tidak layak untuk dibandingkan dengan para Leader. Bagi saya, leader adalah sesorang yang mempunya kaliber dan pesona-nya sendiri, sehingga orang2 akan respect kepada beliau dan mengikuti apa yang di katakan beliau, tanpa Beliau mengatakan ‘ikutilah saya’. Leader akan mempunyai pengikutnya sendiri, yang secara suka rela akan ‘mundur’ jika beliau mundur.

Lha Saya..? Wah…jauh sekali….

Saya memposisikan diri saya saat ini, sebagai Manager saja. Seseorang yang harus me-manage supaya operasional berjalan dengan baik, seseorang yang akan meng-syncronize keadaan yang terjadi diluar dugaan. Seseorang yang bertanggung jawab terhadap kualitas dan prestasi fakultas.

Saya cuma berharap, dengan adanya niat untuk mempersembahkan yang terbaik kepada para mahasiswa, dengan adanya niat untuk memberikan pengalaman belajar yang terbaik kepada mahasiswa, saya akan mampu menemukan orang-orang yang seide dengan saya. Untuk berjalan bersama, dengan fungsinya masing-masing, untuk mencapai tujuan itu.

So, Am I a leader or manager..?

Ah……I am just a manager kok…

Setuju kan..?





Quote of the day

20 10 2008

 

When God put you on the edge of cliff,

TRUST HIM only.

Two things will happen.

Either HE will HOLD you

or

HE will teach how to FLY.

 





Sebuah Fitnah

17 08 2008

Kedua kata di atas rasanya tidak punya muatan yang berat ketika kita membacanya. Tetapi muatan itu  berubah menjadi beban yang super berat bahkan tidak terangkat rasanya, ketika kita sendiri mengalaminya. Terus terang, saya tengah mengalaminya sekarang.

Ketika saya mengetahui sebuah fitnah sudah di ‘jatuhkan’ ke atas pundak saya, reaksi pertama saya adalah tertegun. Dengan kapasitas sederhana, rasanya saya sudah menjaga dari semua sisi, agar fitnah itu bisa saya hindari. Berkomunikasi dengan baik, bersikap ramah, lebih banyak mendengarkan orang lain, membantu orang lain, adalah salah satu langkah yang saya tetapkan ke dalam diri saya, untuk menghindari fitnah. Tetapi akhirnya, hari ini saya disadarkan dengan sebuah kenyataan, bahwa fitnah itu datang juga ke atas diri saya.

Saya kembali tertegun, sementara sahabat saya cuma memandang saya dengan khawatir. Saya masih tertegun, tetapi sempat berkata ” I am ok” kepada sahabat saya tadi walaupun sebenarnya fikiran saya berkecamuk. Apa yang salah..? Mengapa sesuatu yang sudah saya hindari sejauh mungkin akhirnya datang juga..? Mungkin bisa menimpa orang lain, tetapi mengapa harus saya..?

Saya menarik nafas panjang. Setibanya di rumah, saya merenung, susah sekali saya mengingat, apa yang harus dilakukan ketika di timpa musibah sebuah fitnah.  Saya yakin saya pernah membaca  teorinya, tetapi ketika fitnah itu datang, Masya Allah, susahnya saya mengingat. Apa yang harus lakukan..? Apa yang harus saya lakukan..?

Kebetulan Adzan Maghrib berkumandang, saya berwudlu dan sholat. Ketika sholat itulah, saya baru tersadar. Masya Allah. Inilah ujian dari Allah. Inilah ujian yang harus saya jalani. Saya berdzikir dan bertafakur. Dari sana, saya mulai menemukan hati saya, Mekah saya, Madinah saya, keimanan saya.

Ya Allah, fitnah yang tengah saya alami sekarang, adalah fitnah yang ringan, Insya Allah. Allah bisa saja memberikan cobaan fitnah saya yang lebih berat lagi, naudzubillah.

Di sana saya bersujud, memohon ampun, mungkin saya lalai dalam memuji namaNya selama ini. Mungkin saya kurang bersedekah, saya kurang bersilaturahmi, sehingga Allah menegur saya.

Ya Rabb, ampunilah hambaMu ini, hamba menerima ujian dariMu dengan ikhlas. Semua terjadi atas kehendakMu dan hamba ingin lulus dari cobaan ini. Hamba ingin meningkatkan keimanan, meningkatkan derajat dalam pandanganMu. Tuntunlah hamba untuk bisa meghadapi fitnah ini dengan cara yang hikmah. Dengan cara yang baik.

Sesudah berdoa, saya merasa lebih ringan. Fitnah itu masih tersebar rasanya. Bahkan mungkin lebih hebat dari biasanya krn saya sudah mengetahuinya. Tapi saya ingin tetap tenang, tetap fokus tetap memuji namaNya, memohon perlndunganNya. Saya yakin, Allah yang akan menyelamatkan saya.

Fitnah itu sungguh berat untuk yang mengalami. Mari kita meluruskan niat, untuk tidak akan pernah memfitnah orang lain, menyebarkan berita yang tidak benar mengenai orang lain, untuk lebih intropeksi diri dan meluruskan hati.

Adakah dari pembaca yang punya pengalaman serupa..??





Membereskan Fakultas-ku

10 08 2008

Dalam 2 minggu ini saya ada tugas berat yang memerlukan tenaga, pemikiran dan waktu. Yaitu membereskan fakultas saya.  Membereskan di sini maksudnya, saya betul betul harus menempatkan kaki saya on the ground. Tidak ada yang bisa melakukannya kecuali Dekan. Karena informasi yang cukup ada di level Dekan, bukan level di bawahnya. Jadi ya 2 minggu ini akan menjadi minggu minggu yang panjang untuk saya.

Saya ingin memberikan gambaran mengenai apa yang terjadi di Fakultas saya selama 5 tahun terakhir dan mengapa saya perlu waktu 2 minggu untuk membereskannya.

Fakultas saya memiliki 8 jurusan yang berbeda. Setiap jurusan mempunya minimal 18-30 matakuliah yang harus ‘dibuka’ atau di tawarkan setiap semester. Kadang, satu jurusan tidak perlu membuka banyak matakuliah krn tidak ada mahasiswa di semester tersebut. Tetapi semester depan, matakuliah tersebut harus di buka juga karena mahasiswa yang ada di semester bawah akan progress/meneruskan ke semester di atasnya. Keadaan menjadi sedikit rumit karena setiap jurusan memiliki Kalender Akademik yang berbeda (untungnya nggak beda jauh). Ditambah lagi dengan banyaknya Dosen yang keluar/berhenti di tengah-tengah semester, maka issue terbesar yang terjadi adalah Man Power atau Sumber Daya Manusia (dalam hal ini Dosen).

Dosen tidak bisa mengajar semua matakuliah, seberapapun pandainya dia. Setiap Dosen mempunyai area of expertise, yang membuat Dosen  bersangkutan memiliki knowledge yang cukup untuk membawa matakuliah tersebut, untuk ‘mencetak’ mahasiswa dengan skill yang baik. Kalau di kaitkan dengan masalah yang saya tuliskan di paragraf atas, maka yang terjadi di fakultas saya 5 tahun terakhir adalah, Dosen A terpaksa mengajar matakuliah yang bukan bidangnya, karena Dosen B yang seharusnya mengajar di bidang itu sudah berhenti/keluar.

Untuk jangka pendek, fakultas masih bisa bertahan, semua matakuliah akan mempunyai dosen, mahasiswa tidak akan protes, tetapi dari segi kualitas..? Karena sesungguhnya Dosen A tidak ‘major’ di bidang itu, Dosen A bukan expert, dia terpaksa mengajar untuk menjaga nama baik fakultas. Matakuliah programming di semester akhir misalnya, tidak bisa di ajarkan secara maksimal krn Dosen yang mengajarnya tidak mempunyai kapasitas untuk mengajar matakuliah di level itu. Akibatnya ya, kualitas mahasiswa yang melenceng dari yang sudah digariskan di dalam Silabus.

Maka lambat laun, selama 5 tahun ini, setiap Dekan menjadi bingung kalau di tanya : Ada berapa Dosen Programming di fakultas mu? Karena dosen Database juga ngajar programming, dosen network juga ngjar programming bahkan dosen information system juga ngajar programming. Dari segi manajemen, hal ini sudah Out Of Control. Kalau mau merekruit Dosen baru, jadinya mau merekruit Dosen bidang apa..? Karena setiap orang akan meng-claim bahwa mereka Dosen Programming tapi di saat yang sama, mereka juga akan meng-claim Database sebagai area of expertise. Jadi setiap Dosen yang ada, akan meng-claim dua bahkan tiga area of expertise. Sesuatu yang tidak boleh terjadi, kalau Fakultas mau menghasilkan lulusan yang baik.

Saya sangat sedih untuk menerima kenyataan bahwa setiap tahunnya, jumlah Dosen yang berhenti di fakultas sangat tinggi. Hal itu dipicu dari keadaan Kolej saya, yang cuma mau menggaji Dosen secara kontrak (maksudnya nggak ada Dosen tetap, semuanya Dosen full time tapi di kontrak 2 tahun, di perpanjang).  Ketika saya tanya, ttg alasan dosen berhenti atau keluar, mereke menjawab ada tawaran dari tempat lain yang lebih bagus biasanya tawaran kerja sebagai dosen Tetap. Karena hal inilah, hampir setiap tahun, satu fakultas kehilangan 5-10 dosen. Bayangkan rumitnya keadaan ini. Kalau Dekan Fakultas tidak pinter2nya membuat Man Power planning dengan baik, bisa dibayangkan bagaimana kualitas lulusan yang di hasilkan oleh Fakultas. Tentunya Employability yang rendah.

Singkatnya, yang saya harus bereskan sekarang ini adalah menempatkan orang yang tepat di tempat yang tepat. To put the right man on the right place.

Bagaimana caranya..?

Langkah inilah yang akan saya tempuh, atas nasehat Direktur Akademik I, kalau di kita Pembantu Rektor I.

1. Tuliskan Sub Area di Fakultas. Kalau di saya, saya membagi semua matakuliah di setiap jurusan saya ke dalam 7 sub area yaitu: Programming, Database, Information System, Networking, Internet Technology, Multimedia dan Computer Science.

2. Kelompokkan matakuliah dari 8 jurusan kedalam 7 sub area tersebut. Tuliskan Kode matakuliah, Nama matakuliah, Jurusan, Jumlah jam mengajar dalam 1 minggu dan Nama Dosennya.

3. Tentukan jumlah Dosen yang diperlukan untuk setiap Sub Area, dengan perhitungan yang tepat. Contohnya: Sub Area Programming memiliki 5 matakuliah dari setiap jurusan. Jadi, total jumlah matakuliah programming dari 8 jurusan adalah 5 matakuliah x 8 jurusan =40 matakuliah programming. Kalau setiap matakuliah tersebut memerlukan 6 jam/minggu, maka jumlah jam pertemuan per minggunya untuk semua matakuliah adalah 40 matakuliah x 6 jam per minggu= 240 jam pertemuan/minggu.

Jika Setiap Dosen di fakultas memiliki beban 20 jam perminggu, maka jumlah Dosen Programming yang diperlukan adalah 240/20 = 12 Dosen.

4. Tempatkan Dosen yang ada di Fakultas sekarang ini, ke dalam sub area tersebut.  Apakah jumlahnya 12..? Kalau jumlahnya 12, maka Fakultas tidak memerlukan Dosen Programming lagi. Asumsinya : Setiap semester, 5 matakuliah programming tersebut di buka setiap semester.

Nah, 4 langkah itulah yang harus saya selesaikan dalam 2 minggu. Mengapa saya perlu waktu yang begitu lama..? Karena ya sudah ambaradulnya dokumentasi fakultas saya saat ini, warisan dari para dekan terdahulu. Bukan hanya dosen yang berhenti/keluar masuk fakultas, Dekan dan Ketua Jurusannya juga mengalami hal yang sama, mereka pun berhenti juga. Malah ada Dekan / Ketua Jurusan yang berhenti tanpa meninggalkan apa-apa untuk fakultas. Sungguh tidak bertanggung jawab menurut saya.

Semoga saya bisa membereskan Fakultas saya dalam 2 minggu ini, amiiiiiiiiiin. Doain yaaaaa…….