Kemarin malam, saya baru pulang dari Bandung, untuk mengunjungi satu-satunya keluarga kandung saya di Bandung, yaitu Ibu saya. Seperti biasa, beliau menyambut saya dengan berjuta kasih sayang yang tidak pernah berkurang bahkan bertambah setiap tahunnya. Bulan Desember dan Juli adalah bulan kami untuk bertemu, krn pada bulan itulah, Ibu saya dilahirkan (Juli) dan saya dilahirkan (Desember).
Cerita sepanjang hari, menyaksikan televisi sepanjang hari (takjub sekali saya dengan channel TV yang sudah bertambah, infortainment yang masih mendominasi, acara2 kuis yang heboh2, dan tidak lupa berita demonstrasi, ajaran2 sesat (Lia Eden ditangkap kala itu) dan acara kuliner yang semakin menarik.
Saya mencintai Indonesia. Saya ingin kembali ke tanah air suatu hari nanti.
Ibu saya cuma tersenyum. Sudah, ikut takdir Allah saja, ujarnya lembut. Saya pun tersenyum. Setiap tahun saya mengucapkan kalimat yang sama, tetapi kenyataannya, pesawat Air Asia selalu membawa saya kembali ke Malaysia.
Kepulangan saya kali ini, seperti biasa adalah terapi untuk hati dan jiwa saya. Ibu saya selalu punya sesuatu yang baru untuk saya renungkan. Kali ini, kalimat Ibu yang renungkan adalah “Rezek itu datang dari Allah, nak”.
Kalimat sederhana, tetapi untuk saya besar maknanya. Sebagai seorang pegawai bidang pendidikan yang di pimpin oleh non muslim, maka iklim yang diciptakan adalah kompetisi bagi setiap orang di Kolej saya. Kompetisi dari segi manajemen tentunya baik. Karena kompetisi akan melahirkan ttekanan dan dari tekanan itulah, usaha terbaik seorang manusia akan tercipta secara natural.
Akan tetapi, kompetisi juga melahirkan sifat2 yang ‘instant’, demi sebuah kekuasaan atau uang, maka seseorang akan mampu untuk menempuh jalan singkat demi mendapatkannya. Keadaan inilah, yang mampu melengahkan jiwa yang beriman. Pada si satu titik tertentu, dimana arus kompetisi semakin menguat, akankan jiwa yang beriman akan mampu untuk tetap konsisten, bahwa hasil akhir adalah di tangan Allah SWT?
Akankah jiwa yang beriman akan selalu ingat, bahwa kemampuan maksimal yang sudah diupayakan, sesungguhnya bisa berubah menjadi ‘minimal’ apabila Allah SWT menghendakinya.
Akankah jiwa yang beriman akan mampu untuk mengingat bahwa titik tujuan dari kompetisi ini adalah Allah SWT, bukan Boss kita..?
Sungguh, kalimat Ibu saya sangat simple, sederhana. Tetapi saya yang tengah berada di arus kompetisi yang luar biasa derasnya, menjadi sujud tafakur, Ya Allah…sesungguhkan kemenangan atau kekalahan yang kudapatkan adalah dengan izinMu.
Saya yang bekerja keras selama 12 jam/hari, kadang lebih, sesungguhnya adalah untuk menggapai ridhoMu. Bukan untuk menggapai ridho Boss-ku.
Sungguh Ibu saya sudah sukses men’terapi saya kali ini dengan kalimat sederhananya. Dan terapi ini, semakin dikukuhkan oleh channel TV yang saksikan di MetroTV, acara yang dipandu oleh Bapak Mario Teguh dengan judul “A shoulder to Cry On”.
Seorang penanya berujar(kurang lebih demikian) : “Bagaimana caranya seorang pribadi mempunyai kepercayaan diri yang tinggi, sementara dia merasa tidak demikian.”
Jawapan Bapak Mario Teguh berkata: Selama anda memiliki NIAT yang BAIK, maka anda akan percaya diri. Karena itu, anda perlu mempunyai NIAT yang BAIK selalu”. (kurang lebih demikian yang dikatakan beliau).
Kembali itu adalah terapi untuk saya. It works.
Yuk, mari kita mulai hari ini dengan sebuah NIAT yang BAIK. Dengan mengerahkan seluruh daya upaya pemikiran, pengetahuan dan kerja keras, kepercayaan diri akan terwujud. Insya Allah….
Selamat Berkerja dan Berkarya, kawan2 ..:-)
Jangan lupa Rezeki itu datang dari Allah SWT…




Dalam 2 minggu ini saya ada tugas berat yang memerlukan tenaga, pemikiran dan waktu. Yaitu membereskan fakultas saya. Membereskan di sini maksudnya, saya betul betul harus menempatkan kaki saya on the ground. Tidak ada yang bisa melakukannya kecuali Dekan. Karena informasi yang cukup ada di level Dekan, bukan level di bawahnya. Jadi ya 2 minggu ini akan menjadi minggu minggu yang panjang untuk saya.
Recent Comments