My Envy

20 04 2008

 

These tremendous two months brought me to a new hobby over weekend, it is a long drive at least 15km away from my compound to clear my head after continuous event that suck my energy off.

 

Long, smooth and wide road was the witness how I throw all my problems and negative energy to refill it with fresh air and positive energy that I definitely need them on the upcoming Monday. To be silent, only with my black best friend ‘kelisa’ (my car) and radio that I can switch whenever I want either Malay or Indonesian song, or event western song, I truly got this new hobby as my moment to know myself better and to give my time to hear from my self about what had happened. Usually I will make appointment with my friend, either my own best friends to hang out with, or I will invite my old friend, outside my compund to join me to enjoy the weekend. This is one of the ‘fresh air’ that I need, before I back into my ‘nature’.

 

Maybe I am a bit blue today, that sometimes after I met my friends over the weekend, I experience rollercoaster in my heart. To enjoy with friends, bitterly I have to say, sometimes it works, sometimes it doesn’t. Why would I say like that..? It is because my friends bring their own story as I bring mine as well. From there I could observe and incidentally compare how  their life keep changing and updating.

 

Some of them had just got new job, new relationship and new hope, which it made me do look down into myself, and asking, what about me ? What had I get from my life so far? I do feel blessed with my life, that I have a good job, something that I can be proud with. Just unfortunately as a human, I have my own envy on someone else’s life. It is a human nature, I perfectly aware of that, that is why I consider it is still a normal envy, as long as I don’t miss-used it into something that make me regret later.

 

Well, to make a fast checklist, I do still keep my old job (checked), I do keep my old relationship (checked), which actually I never known where would it be ended and I don’t know what to hope in the future (unchecked) since I survive on monthly basis from my income to get my life moves on.

 

The most updated one about my life is about promotion. Yes, after 5 years serving my college. I am now no more on the middle management, but I am on the top of my department, from a follower to a determiner. Where would my department goes, to which direction, it is all in my hand. I have a huge responsibility toward my employee’s life and whatever I say or I do will make big effect for them. That’s why I need to be extremely careful.

 

A gentle voice whispered in my ear. Is it in Malaysia where should I belong? Is this college a place where should I give all my commitment?  What about someone that I always miss him so much in each and every single day of my life? Did he miss me that much? Did he have a plan about us? I perfectly don’t know.

 

I am alone. No body to turn to. I have my TV on to company me, my lap top as my silent witness of my writing and my rent apartment as my place to secure from daily weather. I am perfectly alone. I have Mom who lives in Bandung, but sometimes I don’t want to disturb her with my envy, she has her own issues and it is part of my life to listen to her, not to throw my problems to her. And that make even my life complete as a lone ranger in the mountain of life. Nothing I can do much, but to get wiser and tougher to deal with my own envy, to get along with my own tears and to find my own strength inside me.

 

I am alone. But I am still surviving, because I have a heart, which never fail to find me a happiness. I feel it is enough. I get what I need, don’t I?

 





Mengapa Bukan Indonesia..??

18 04 2008

Hari ini meeting para Dekan dengan Academic Directors. Salah satu topik pembahasannya adalah ’shortage of Lecturers’, kekurangan tenaga dosen. Ada pertimbangan tertentu dari Kolej kami untuk tidak mengambil orang lokal (Malaysia), salah satunya adalah keinginan orang lokal Malaysia untuk memilih bekerja dengan Kerajaan (pemerintah), dibandingkan swasta. Salah satu alasan lagi adalah masih minimnya jumlah lulusan S2 dan minimnya mutu S2 mereka.

Sesudah membahas peluang untuk melakukan recruitment ke negara lain, pilihan utama jatuh kepada negara India. Bulan depan, Academic Director akan pergi ke India untuk mewawancara calon Dosen disana.

Tentu, saya ingin mereka pergi ke Indonesia. Ternyata, sesudah di bahas, mereka meletakkan Indonesia di peringkat paling bawah untuk tenaga Dosen, dengan alasan utama: Minimnya penguasaan bahasa Inggris. Saya agak keberatan tentu saja. Saya sempat menghubungi rekan2 yang sangat pandai di ITB dulu, untuk mengambil kesempatan ini. Tetapi sesudah mereka tahu, bhw bhs pengantarnya adalah bhs Inggris, lagi2 mereka mundur.

Duh, mirisnya.

Kalau sudah begini, saya mau bilang apa dong ya..??

Akhirnya strategi saya sekarang adalah untuk mencoba merekruit orang2 Indonesia yang tengah study di Malaysia. Minimal mereka tahu, bhs Inggris, budaya dan bagaimana kualitas pendidikan di Malaysia (ada tugas2 dosen di Malaysia, yang belum di lakukan di Indonesia). Terutama lagi, Malaysia lebih mengacu kepada British Education, yang kurang populer di Indoesia.

Semoga satu saat nanti, Academic Director saya akan terbang ke Indonesia untuk mencari Dosen, bukan ke negara lain.

Kawan2, kalau ada yang berminat mengajar di Kolej saya, dan mampu menghadapi tantangan dunia pendidikan, silakan kontak saya yaaaaaaaaaaaaaa

Makasihhhhhh……

 





Membuat Passport Kurang Dari 3 Jam

14 04 2008

Hari ini saya mendapat SMS dari Hotlink, salah satu provider telekomunikasi terbesar di Malaysia. Isinya sebagai berikut:

Kepada WN Indonesia di Malaysia, pelayanan passport di KBRI Kuala Lumpur hanya perlu waktu kurang dari 3 jam. Loket buka pukul 9-17, Senin – Jumat. Tidak perlu datang terlalu awal.

Alhamdulillah….berita tentang kemudahan ini sudah lama saya dengar, kawan2 saya sekantor sudah membuktikannya sendiri. Sekarang membuat passport di KBRI sangat mudah, ujar mereka. Dan sekarang ini, saya mendapat SMS yang berbahasa Indonesia dari sebuah provider terbesar di Malaysia. Sungguh usaha KBRI untuk menyebarluaskan berita itu merupakan langkah yang menakjubkan. Akhirnya, wujud komitmen Pemerintah Indonesia kepada Warganya telah maju selangkah, sudah terbukti.

Rencananya minggu depan saya akan bertandang ke KBRI, untuk memperpanjang passport saya. Belum pernah saya merasa “setenang” dan “seringan” ini untuk melangkahkan kaki ke KBRI, kedutaan bangsaku sendiri. Semoga lancar, amiinn.

 





Megahnya Kampus-ku

14 04 2008

Sudah 5 tahun saya memberikan komitmen kepada Kampus saya, Legenda Education Group, sebagai Dosen dan kini duduk di top management. Berbagai suka dan duka saya alami, terkadang keindahan kampus saya ini, sudah tidak terasa lagi.  Padahal bagi para new comer, sungguh mereka bilang kampusku indah dan megah.

Tahun 2003, saya datang dengan bekal S2 dan pengalaman mengajar selama 8 tahun. Gaji yang saya dapatkan 4 kali lipat di bandingkan gaji saya dulu (sudah termasuk nyambi di mana-mana). Berbekal keberanian untuk berkomunikasi dalam Bhs Inggris, saya mendaratkan kaki di bumi tanah Melayu.

Tertegun saya dengan luasnya bangunan kampus ini. Padahal kampusku ini “cuma” swasta. Tapi pembangunannya sudah menunjukkan komitmen yang tinggi dari pemiliknya terhadap dunia pendidikan.  Mahasiswanya baru sekitar 3000 orang, dengan karyawan seramai kurang lebih 300 orang.  Untuk memasuki kampusku, harus berjalan sekitar 3 km dari jalan utama.

Kampusku megah. Ada ruang perpustakaan yang besar, ada Laboratorium komputer yang banyak. Setiap mhs mendapatkan fasilitas internet gratis. Ada fasilitas hostel bagi setiap mahasiswa, yang membuat kami semua mudah mencari mereka, kalau tiba-tiba menghilang dari kelas (bolos).

Banyak yang bisa diceritakan dari kampus saya ini. Tapi krn malam sudah larut, saya tamatkan dulu disini, nanti saya teruskan lagi.

 





Back to Indonesia..??

14 04 2008

One day I received one SMS from my Uncle. It was such a simple sms, that asked me how was life treating me so far. I replied to him that I am doing good. Then he replied again, once you feel that you are ready, you should back to your home country and stay with family.

I just feel overwhelming. I managed to reply him with a general word. Insya Allah, I said. 

But…actually…..

I do not know, whether I am ready or not to back to Indonesia.

1001 reasons I can list down here, but it’s ok lah . I don’t want to share something that triggers another conflict on the net.  All I can say, Insya Allah. If destiny and journey ahead me to Indonesia, of course I should be there by now.

But the fact is I am here. In Malaysia. And I am happy.

 





Menjadi Dekan Yang Baik

13 04 2008

Menjadi Dekan yang baik, gimana caranya ya..??

1. Niat yang tulus.

Maskipun orang bilang ‘ah sok suci’, tapi saya percaya, niat yang tulus akan membawa aura dan kebaikannya tersendiri. Dengan izin Allah tentunya. Amin. Niat yang tulus tentunya banyak. Untuk saya, saya ingin sekali membawa Fakultas ke arah profesionalism yang handal. Orang tua sudah mempercayai putra-putrinya untuk menimba ilmu di fakultas saya, sudah seharusnya, saya memberikan yang service yang terbaik untuk mereka.

2. Pengetahuan

Seorang Dekan harus tahu banyak, tentang fakultasnya. Semua, tidak terkecuali. Inilah target terbesar yang tetapkan untuk diri saya sendiri. Saat ini saya memiliki 7 jurusan di bawah saya, dan setiap jurusan memiliki pendekatan yang berbeda, baik dari segi kurikulum, penilaian dan administrasinya. Pengetahuan seorang Dekan harus mencakupi ini semua. Juga seorang Dekan, harus mengenal dengan baik setiap mahasiswa di fakultasnya. Minimal dia harus tahu, mhs A baik atau tidak, berprestasi atau tidak, dst. Pengetahuan yang tanpa batas. Setiap hari adalah tantangan, dan setiap hari adalah pengetahuan yang baru, bagi seorang Dekan.

3. Kepemimpinan

Leadership sungguh di perlukan oleh seorang Dekan. Karena Dekan akan bekerja melalui tangan orang lain, yaitu para Ketua Jurusan dan Dosen2 di fakultasnya. Seorang Dekan tidak akan bisa berprestasi apabila yang bersangkutan tidak mampu bekerjasama, memotivasi dan memimpin fakultasnya untuk mencapai target yang sudah ditetapkan. Apabila Ketua Jurusan dan Dosen mampu bekerja dengan baik (sudah menjadi kewajiban seorang Dekan untuk memberikan environment/lingkungan yang kondusif) maka Dekan tersebut akan mampu meraih kesuksesan. Dekan tidak bisa bekerja sendiri. Dia memerlukan orang lain. Team Work.

4. Kerja Keras

Tidak ada orang yang mengatakan ’saya tidak bekerja keras’. Semua orang tentunya akan ‘claim’ bahwa mereka sudah bekerja keras, cuma mungkin hasilnya belum sesuai yang di harapkan. Saya setuju. Tetapi yang saya maksudkan kerja keras disini adalah kerja keras yang terus menerus, tidak pantang mundur. TELATEN, istilah Mama saya. Artinya, jangan bosan mengunjungi kembali kerja yang belum membuahkan hasil tersebut, seberat apapun, kalau di kerjakan sedikit demi sedikit, pasti akan membuahkan hasil.

5. Kreatif dan Inovatif

Seorang Dekan harus mampu berfikir ke depan. Ketika semua orang di fakultasnya memikirkan A, B dan C, seorang Dekan minimal sudah harus berfikir tentang D, E dan F. Artinya, visi ke depan sangat penting untuk menentukan ke arah mana fakultas akan berjalan. Kreatif dan Inovatif adalah tuntutan seterusnya, untuk mengakomodasi perubahan di masa depan.

Ada lagi nggak ya..??

 





Tahun 2008 Untukku

13 04 2008

Menjadi Head of Department. Dekan. Pernahkah hal itu terlintas dalam fikiran saya..?? Sama sekali tidak, tentunya. Tetapi itulah kekuasaan Allah. Tiada seorang pun yang mampu menentang rencanaNya, sekalipun kita sudah berlari beribu kaki. Tahun 2008 ini, belum genap 4 bulan berlalu, saya sudah harus belajar mengemban amanah baru. Dekan.

5 huruf saja yang di pakai dari 26 huruf alphabet yang ada. Tetapi tanggung jawab nya, merentasi 26 huruf alphabet itu.  Masya Allah.