Kedua kata di atas rasanya tidak punya muatan yang berat ketika kita membacanya. Tetapi muatan itu berubah menjadi beban yang super berat bahkan tidak terangkat rasanya, ketika kita sendiri mengalaminya. Terus terang, saya tengah mengalaminya sekarang.
Ketika saya mengetahui sebuah fitnah sudah di ‘jatuhkan’ ke atas pundak saya, reaksi pertama saya adalah tertegun. Dengan kapasitas sederhana, rasanya saya sudah menjaga dari semua sisi, agar fitnah itu bisa saya hindari. Berkomunikasi dengan baik, bersikap ramah, lebih banyak mendengarkan orang lain, membantu orang lain, adalah salah satu langkah yang saya tetapkan ke dalam diri saya, untuk menghindari fitnah. Tetapi akhirnya, hari ini saya disadarkan dengan sebuah kenyataan, bahwa fitnah itu datang juga ke atas diri saya.
Saya kembali tertegun, sementara sahabat saya cuma memandang saya dengan khawatir. Saya masih tertegun, tetapi sempat berkata ” I am ok” kepada sahabat saya tadi walaupun sebenarnya fikiran saya berkecamuk. Apa yang salah..? Mengapa sesuatu yang sudah saya hindari sejauh mungkin akhirnya datang juga..? Mungkin bisa menimpa orang lain, tetapi mengapa harus saya..?
Saya menarik nafas panjang. Setibanya di rumah, saya merenung, susah sekali saya mengingat, apa yang harus dilakukan ketika di timpa musibah sebuah fitnah. Saya yakin saya pernah membaca teorinya, tetapi ketika fitnah itu datang, Masya Allah, susahnya saya mengingat. Apa yang harus lakukan..? Apa yang harus saya lakukan..?
Kebetulan Adzan Maghrib berkumandang, saya berwudlu dan sholat. Ketika sholat itulah, saya baru tersadar. Masya Allah. Inilah ujian dari Allah. Inilah ujian yang harus saya jalani. Saya berdzikir dan bertafakur. Dari sana, saya mulai menemukan hati saya, Mekah saya, Madinah saya, keimanan saya.
Ya Allah, fitnah yang tengah saya alami sekarang, adalah fitnah yang ringan, Insya Allah. Allah bisa saja memberikan cobaan fitnah saya yang lebih berat lagi, naudzubillah.
Di sana saya bersujud, memohon ampun, mungkin saya lalai dalam memuji namaNya selama ini. Mungkin saya kurang bersedekah, saya kurang bersilaturahmi, sehingga Allah menegur saya.
Ya Rabb, ampunilah hambaMu ini, hamba menerima ujian dariMu dengan ikhlas. Semua terjadi atas kehendakMu dan hamba ingin lulus dari cobaan ini. Hamba ingin meningkatkan keimanan, meningkatkan derajat dalam pandanganMu. Tuntunlah hamba untuk bisa meghadapi fitnah ini dengan cara yang hikmah. Dengan cara yang baik.
Sesudah berdoa, saya merasa lebih ringan. Fitnah itu masih tersebar rasanya. Bahkan mungkin lebih hebat dari biasanya krn saya sudah mengetahuinya. Tapi saya ingin tetap tenang, tetap fokus tetap memuji namaNya, memohon perlndunganNya. Saya yakin, Allah yang akan menyelamatkan saya.
Fitnah itu sungguh berat untuk yang mengalami. Mari kita meluruskan niat, untuk tidak akan pernah memfitnah orang lain, menyebarkan berita yang tidak benar mengenai orang lain, untuk lebih intropeksi diri dan meluruskan hati.
Adakah dari pembaca yang punya pengalaman serupa..??
Dalam 2 minggu ini saya ada tugas berat yang memerlukan tenaga, pemikiran dan waktu. Yaitu membereskan fakultas saya. Membereskan di sini maksudnya, saya betul betul harus menempatkan kaki saya on the ground. Tidak ada yang bisa melakukannya kecuali Dekan. Karena informasi yang cukup ada di level Dekan, bukan level di bawahnya. Jadi ya 2 minggu ini akan menjadi minggu minggu yang panjang untuk saya.
Recent Comments