Sebuah Fitnah

17 08 2008

Kedua kata di atas rasanya tidak punya muatan yang berat ketika kita membacanya. Tetapi muatan itu  berubah menjadi beban yang super berat bahkan tidak terangkat rasanya, ketika kita sendiri mengalaminya. Terus terang, saya tengah mengalaminya sekarang.

Ketika saya mengetahui sebuah fitnah sudah di ‘jatuhkan’ ke atas pundak saya, reaksi pertama saya adalah tertegun. Dengan kapasitas sederhana, rasanya saya sudah menjaga dari semua sisi, agar fitnah itu bisa saya hindari. Berkomunikasi dengan baik, bersikap ramah, lebih banyak mendengarkan orang lain, membantu orang lain, adalah salah satu langkah yang saya tetapkan ke dalam diri saya, untuk menghindari fitnah. Tetapi akhirnya, hari ini saya disadarkan dengan sebuah kenyataan, bahwa fitnah itu datang juga ke atas diri saya.

Saya kembali tertegun, sementara sahabat saya cuma memandang saya dengan khawatir. Saya masih tertegun, tetapi sempat berkata ” I am ok” kepada sahabat saya tadi walaupun sebenarnya fikiran saya berkecamuk. Apa yang salah..? Mengapa sesuatu yang sudah saya hindari sejauh mungkin akhirnya datang juga..? Mungkin bisa menimpa orang lain, tetapi mengapa harus saya..?

Saya menarik nafas panjang. Setibanya di rumah, saya merenung, susah sekali saya mengingat, apa yang harus dilakukan ketika di timpa musibah sebuah fitnah.  Saya yakin saya pernah membaca  teorinya, tetapi ketika fitnah itu datang, Masya Allah, susahnya saya mengingat. Apa yang harus lakukan..? Apa yang harus saya lakukan..?

Kebetulan Adzan Maghrib berkumandang, saya berwudlu dan sholat. Ketika sholat itulah, saya baru tersadar. Masya Allah. Inilah ujian dari Allah. Inilah ujian yang harus saya jalani. Saya berdzikir dan bertafakur. Dari sana, saya mulai menemukan hati saya, Mekah saya, Madinah saya, keimanan saya.

Ya Allah, fitnah yang tengah saya alami sekarang, adalah fitnah yang ringan, Insya Allah. Allah bisa saja memberikan cobaan fitnah saya yang lebih berat lagi, naudzubillah.

Di sana saya bersujud, memohon ampun, mungkin saya lalai dalam memuji namaNya selama ini. Mungkin saya kurang bersedekah, saya kurang bersilaturahmi, sehingga Allah menegur saya.

Ya Rabb, ampunilah hambaMu ini, hamba menerima ujian dariMu dengan ikhlas. Semua terjadi atas kehendakMu dan hamba ingin lulus dari cobaan ini. Hamba ingin meningkatkan keimanan, meningkatkan derajat dalam pandanganMu. Tuntunlah hamba untuk bisa meghadapi fitnah ini dengan cara yang hikmah. Dengan cara yang baik.

Sesudah berdoa, saya merasa lebih ringan. Fitnah itu masih tersebar rasanya. Bahkan mungkin lebih hebat dari biasanya krn saya sudah mengetahuinya. Tapi saya ingin tetap tenang, tetap fokus tetap memuji namaNya, memohon perlndunganNya. Saya yakin, Allah yang akan menyelamatkan saya.

Fitnah itu sungguh berat untuk yang mengalami. Mari kita meluruskan niat, untuk tidak akan pernah memfitnah orang lain, menyebarkan berita yang tidak benar mengenai orang lain, untuk lebih intropeksi diri dan meluruskan hati.

Adakah dari pembaca yang punya pengalaman serupa..??





Membereskan Fakultas-ku

10 08 2008

Dalam 2 minggu ini saya ada tugas berat yang memerlukan tenaga, pemikiran dan waktu. Yaitu membereskan fakultas saya.  Membereskan di sini maksudnya, saya betul betul harus menempatkan kaki saya on the ground. Tidak ada yang bisa melakukannya kecuali Dekan. Karena informasi yang cukup ada di level Dekan, bukan level di bawahnya. Jadi ya 2 minggu ini akan menjadi minggu minggu yang panjang untuk saya.

Saya ingin memberikan gambaran mengenai apa yang terjadi di Fakultas saya selama 5 tahun terakhir dan mengapa saya perlu waktu 2 minggu untuk membereskannya.

Fakultas saya memiliki 8 jurusan yang berbeda. Setiap jurusan mempunya minimal 18-30 matakuliah yang harus ‘dibuka’ atau di tawarkan setiap semester. Kadang, satu jurusan tidak perlu membuka banyak matakuliah krn tidak ada mahasiswa di semester tersebut. Tetapi semester depan, matakuliah tersebut harus di buka juga karena mahasiswa yang ada di semester bawah akan progress/meneruskan ke semester di atasnya. Keadaan menjadi sedikit rumit karena setiap jurusan memiliki Kalender Akademik yang berbeda (untungnya nggak beda jauh). Ditambah lagi dengan banyaknya Dosen yang keluar/berhenti di tengah-tengah semester, maka issue terbesar yang terjadi adalah Man Power atau Sumber Daya Manusia (dalam hal ini Dosen).

Dosen tidak bisa mengajar semua matakuliah, seberapapun pandainya dia. Setiap Dosen mempunyai area of expertise, yang membuat Dosen  bersangkutan memiliki knowledge yang cukup untuk membawa matakuliah tersebut, untuk ‘mencetak’ mahasiswa dengan skill yang baik. Kalau di kaitkan dengan masalah yang saya tuliskan di paragraf atas, maka yang terjadi di fakultas saya 5 tahun terakhir adalah, Dosen A terpaksa mengajar matakuliah yang bukan bidangnya, karena Dosen B yang seharusnya mengajar di bidang itu sudah berhenti/keluar.

Untuk jangka pendek, fakultas masih bisa bertahan, semua matakuliah akan mempunyai dosen, mahasiswa tidak akan protes, tetapi dari segi kualitas..? Karena sesungguhnya Dosen A tidak ‘major’ di bidang itu, Dosen A bukan expert, dia terpaksa mengajar untuk menjaga nama baik fakultas. Matakuliah programming di semester akhir misalnya, tidak bisa di ajarkan secara maksimal krn Dosen yang mengajarnya tidak mempunyai kapasitas untuk mengajar matakuliah di level itu. Akibatnya ya, kualitas mahasiswa yang melenceng dari yang sudah digariskan di dalam Silabus.

Maka lambat laun, selama 5 tahun ini, setiap Dekan menjadi bingung kalau di tanya : Ada berapa Dosen Programming di fakultas mu? Karena dosen Database juga ngajar programming, dosen network juga ngjar programming bahkan dosen information system juga ngajar programming. Dari segi manajemen, hal ini sudah Out Of Control. Kalau mau merekruit Dosen baru, jadinya mau merekruit Dosen bidang apa..? Karena setiap orang akan meng-claim bahwa mereka Dosen Programming tapi di saat yang sama, mereka juga akan meng-claim Database sebagai area of expertise. Jadi setiap Dosen yang ada, akan meng-claim dua bahkan tiga area of expertise. Sesuatu yang tidak boleh terjadi, kalau Fakultas mau menghasilkan lulusan yang baik.

Saya sangat sedih untuk menerima kenyataan bahwa setiap tahunnya, jumlah Dosen yang berhenti di fakultas sangat tinggi. Hal itu dipicu dari keadaan Kolej saya, yang cuma mau menggaji Dosen secara kontrak (maksudnya nggak ada Dosen tetap, semuanya Dosen full time tapi di kontrak 2 tahun, di perpanjang).  Ketika saya tanya, ttg alasan dosen berhenti atau keluar, mereke menjawab ada tawaran dari tempat lain yang lebih bagus biasanya tawaran kerja sebagai dosen Tetap. Karena hal inilah, hampir setiap tahun, satu fakultas kehilangan 5-10 dosen. Bayangkan rumitnya keadaan ini. Kalau Dekan Fakultas tidak pinter2nya membuat Man Power planning dengan baik, bisa dibayangkan bagaimana kualitas lulusan yang di hasilkan oleh Fakultas. Tentunya Employability yang rendah.

Singkatnya, yang saya harus bereskan sekarang ini adalah menempatkan orang yang tepat di tempat yang tepat. To put the right man on the right place.

Bagaimana caranya..?

Langkah inilah yang akan saya tempuh, atas nasehat Direktur Akademik I, kalau di kita Pembantu Rektor I.

1. Tuliskan Sub Area di Fakultas. Kalau di saya, saya membagi semua matakuliah di setiap jurusan saya ke dalam 7 sub area yaitu: Programming, Database, Information System, Networking, Internet Technology, Multimedia dan Computer Science.

2. Kelompokkan matakuliah dari 8 jurusan kedalam 7 sub area tersebut. Tuliskan Kode matakuliah, Nama matakuliah, Jurusan, Jumlah jam mengajar dalam 1 minggu dan Nama Dosennya.

3. Tentukan jumlah Dosen yang diperlukan untuk setiap Sub Area, dengan perhitungan yang tepat. Contohnya: Sub Area Programming memiliki 5 matakuliah dari setiap jurusan. Jadi, total jumlah matakuliah programming dari 8 jurusan adalah 5 matakuliah x 8 jurusan =40 matakuliah programming. Kalau setiap matakuliah tersebut memerlukan 6 jam/minggu, maka jumlah jam pertemuan per minggunya untuk semua matakuliah adalah 40 matakuliah x 6 jam per minggu= 240 jam pertemuan/minggu.

Jika Setiap Dosen di fakultas memiliki beban 20 jam perminggu, maka jumlah Dosen Programming yang diperlukan adalah 240/20 = 12 Dosen.

4. Tempatkan Dosen yang ada di Fakultas sekarang ini, ke dalam sub area tersebut.  Apakah jumlahnya 12..? Kalau jumlahnya 12, maka Fakultas tidak memerlukan Dosen Programming lagi. Asumsinya : Setiap semester, 5 matakuliah programming tersebut di buka setiap semester.

Nah, 4 langkah itulah yang harus saya selesaikan dalam 2 minggu. Mengapa saya perlu waktu yang begitu lama..? Karena ya sudah ambaradulnya dokumentasi fakultas saya saat ini, warisan dari para dekan terdahulu. Bukan hanya dosen yang berhenti/keluar masuk fakultas, Dekan dan Ketua Jurusannya juga mengalami hal yang sama, mereka pun berhenti juga. Malah ada Dekan / Ketua Jurusan yang berhenti tanpa meninggalkan apa-apa untuk fakultas. Sungguh tidak bertanggung jawab menurut saya.

Semoga saya bisa membereskan Fakultas saya dalam 2 minggu ini, amiiiiiiiiiin. Doain yaaaaa…….





Revisit My Objective

1 08 2008

It has been 6 months (1 semester) I carry my duty as HOD in my office. It has been ups and downs. My faculty is progressing in a good direction, I have enough support from my staff, people are mobile, students are involved with faculty improvement and faculty has achieved the best recognition ever from the government. Yes it was good, we all feel good.

From my own experiences, I feel that I’ve learnt so much about planning both in HR and subject registration of my 8 programs under my care. I learn also about how to synchronize things, how to optimize resources, how to deal with partner of collaborations, how to deal with my staff better and how to face bad things appropriately. It is never been easy. It really ups and down. But I move on.

Now, I want to revisit my objective of taking this HOD position. Why ? Because things have changed. And somehow it effects me, emotionally.

I need to know, could I still stand tall by pertaining my first objective after one semester? People are happy but also there are people who are unhappy. I know that I can not make everyboday happy, but this has forced me to revisit my objective.

People are working but there are also people who take advantage or even abuse the system. I really can not retain my naive perception that everybody is sincere and nice, when the fact shows me that not all of them are like that. I have to be strong and strict when I deal with such people but also at the same time, I have to be approachable and friendly. In short word, I have to be fair. My boss call it as : Situational Manager.  

Today, I have revisited my objective, SUCCESSFULLY. With a help from my best friend, which I beleive it comes from Allah SWT anyway, I think I found already my new objective. I can not share it here, what was my previous objective, and what is it now. I just want to share, that’s my mind  has changed. I am glad I’ve found what I am looking for, as I do beleive, my objective is something that makes me focus in what I do.

After some period, now I feel fresh and energized, since I will know what I am going to do for future onwards. I only hope that Allah SWT will be with me all the time, with His Mercy and His Guidance hopefully Allah will shows me the way, how to get things done. Amin.

Another best friend gave me a wise word.

She said, Deshinta, ” please remember, that Whenever God gives you a tree (responsibility) , He will not forget to provide you water.”  Just do good- God will take care the rest.

I feel that I am newly born with those powerfull words.

I have so many trees in my hand now. But I will show the world, that I can handle it. And in the end, I can make it. I will search water in anywhere, with Allah’s guidance, I beleive I will find the fresh water ever.

Insya Allah.