Saya rasa dunia pendidikan akan terus menerus menghadapi dilema untuk memposisikan diri terhadap aspek komersial. Tidak hanya di Perguruan Tinggi Swasta and Perguruan Tinggi Negeri di Indonesia, tetapi juga Perguruan Tinggi Swasta dan Negeri di Malaysia.
Saya ingat ketika itu saya bekerja di sebuah Univ Swasta di Bandung, di Jalan Halimun tahun 1996 hingga 2002. Pertikaian tajam terjadi di antara kalangan akademik dengan Yayasan. Yayasan tentu saja berfikir bagaimana caranya investasi yang mereka tanamkan di sebuah PTS akan kembali atau menyentuh break event point. Sedangkan kalangan akademik berfikir bagaimana caranya menjaga mutu dan kualitas, agar lulusan yang dihasilkan mampu di serap oleh industri.
Pertikaian biasanya terjadi ketika kalangan akademis mulai melihat perlunya ‘pengembangan’ atau development di sebuah fakultas/jurusan, demi memenuhi tuntutan industri yang bergerak cepat. Permohonan pengembangan tersebut harus di luluskan oleh Yayasan, yang tentunya Yayasan secara otomatis akan melihat segi efisiensi dari permohonan tersebut. Disinilah jalan tengah perlu di musyawarahkan. Disinilah kemampuan untuk berkomunikasi berujung kepada dua kemungkinan, sepakat atau tidak sepakat. Dan disinilah, biasanya pihak Yayasan akan duduk berseberangan dengan pihak akademis.
Bukan saja mengenai pengembangan, ada banyak hal lainnya yang menyebabkan pihak akademis berseberangan dengan Yayasan. Intinya, kedua kubu ini ada kalanya saling bertemu dan berjabatan tangan dan banyak kali bertemu tetapi lain haluan. Akankah ada jalan tengah yang dapat di terima oleh Kalangan Akademis dan juga oleh Aspek Komersial..? Rasanya sulit sekali, karena jalan tengah artinya ada kompromi. Kompromi artinya berbagi, membelah sebuah idealisme untuk mengakomodasi idealisme yang lainnya, yang datang dari dunia dengan aspek fikiran yang berbeda.
Beberapa minggu yang lalu, hal yang serupa terjadi di Kolej saya. Dalam menjalani tugas sebagai Dekan, saya banyak berurusan dan mengetahui kemelut yang terjadi di kalangan top management. Berbeda dengan di Indonesia (di Bandung tempat saya bekerja dulu tepatnya), pihak Yayasan di Kolej saya ini, terjun langsung ke dalam dunia akademis. Mereka duduk sebagai Managing Director (pimpinan tertinggi, pemegang immunity) dan seorang lagi terjun sebagai Pembantu Rektor 2.
Berdasarkan pengamatan saya, hanya Rektor dan Pembantu Rektor I yang biasanya menyuarakan dan memelihara keseimbangan di setiap kemelut Akademis dan Komersial. Di bawah jajaran top manegement ini, terdapat posisi Direktur Akademik yang membawahi para Dekan. Nah, Direktur Akademik ini, berdasarkan pengamatan saya, lebih banyak melihat aspek komersial di bandingkan yang seharusnya. Jadilah tugas itu bertumpu kepada Dekan, untuk menjalankan setiap keputusan yang diambil oleh para top management. Dekan boleh bersuara, tetapi kuputusan sudah di ambil. Suara Dekan hanyalah berupa justifikasi dari implementasi ke bawah. Berapa lama keputusan itu bisa dijalankan, bagaimana dampaknya, dan seterusnya.
Bayangkan jauhnya kedudukan para Dosen dari segi ini. Dosen hanya fokus untuk mengajar, memastikan kurikulum berjalan seperti yang sudah di gariskan dan mampu memberikan yang terbaik kepada para mhs. Kadang saya memandang Dosen2 saya dengan rasa Iba, krn mereka menjalankan sesuatu yang sesungguhnya dari segi akademis sangat bertentangan.
Satu hari, saya melihat bagaimana Pembantu Rektor I berjuang sendirian dalam mempertahankan kualitas akademik. Rektor entah di mana, tetapi saat itu, rektor tidak mampur berbuat apa-apa.
Masalahnya sederhana, kami tengah menjalankan Franchise Program dengan Univ of East London. Seperti yang sudah di sepakati selama ini, masa pendaftaran mahasiswa adalah hingga tanggal X. Sesudah tanggal X, pendaftaran di tutup dan nama mhs sudah di kirimkan ke London. Franchise program mengharuskan kami berjalan secara paralel dengan London, baik dari segi waktu dan kualitas penyampaian program tersebut.
Pada tanggal Y, terdapat sejumlah mahasiswa international (dari benua Afrika dan Middle East) yang belum mendaftar pada waktunya karena masalah keuangan. Jumlahnya ada 21 orang. Karena kuliah sudah mulai selama 3 minggu, tentu saja pendaftaran sudah di tutup. Tetapi, top management punya pandangan lain, Kuliah BARU MULAI 3 minggu. Tidak ada salahnya, 21 mhs ini mendaftar karena masalah keuangan mereka sudah mampu di atasi. Pada hari Y itu, Pembantu Rektor I membuat keputusan, ke 21 orang mhs tersebut akan mendaftar semester berikutnya, bukan semester ini. Jadi status mereka adalah postpone semester atau cuti selama satu semester. Hal itu bisa mengerti, karena kuliah sudah mulai, Dosen2 pun sudah mengajar paling tidak 1-2 bab. Agak susah untuk mengulang semua materi karena datangya 21 orang mhs ini.
Tetapi ternyata, keputusan Pembantu Rektor I tidak menyenangkan hati top management. Sesudah bertikai dengan tajam, akhirnya, keputusan tersebut di OVERRULED oleh top management. Ke 21 orang mhs tersebut di bolehkan masuk ke dalam kuliah. Masalah bagaimana caranya menyesuaikan pelajaran yang tertinggal, diserahkan kepada Fakultas. Dalam hal ini Dekan. Dalam hal ini Dosen. Kami semua.
Saya ketika itu, agak terkejut, ketika ada 4 orang mhs yang mendaftar di minggu ke-4 kuliah. (dari 21 mhs, 4 orang mhs adalah fakultas saya).
Bagaimana mungkin…? Tetapi keputusan sudah di buat. Saya cuma memandang Pembantu Rektor I tanpa mampu berkata apa-apa. Yah 21 orang x RM 23.000 memang jumlah yang significant. Saya cuma terpekur dan dengan sedih saya harus menyelenggarakan rapat Dosen khusus untuk mengatur ini semua.
Berat mata memandang, lebih berat bahu yang memikul. Itulah kata kiasan saya untuk menggambarkan kalutnya Dosen2 saya menerima kenyataan ini. Saya sendiri mengajar satu matakuliah di sem akhir, terdapat satu mhs yang masuk kuliah saya dari ke 4 mhs tersebut. Hingga hari ini, mhs tersebut memang tunggang langgang untuk mengejar ketinggalannya.
Yah…..inilah dunia akademik. Yang akan terus tertatih tatih untuk memposisikan dirinya terhadap dunia komersial.
** foto di atas adalah foto saya, di antara para Dekan lainnya di sebuah acara Wisuda**
Recent Comments