Quotes of the day

24 11 2008

To live is to risk dying
to hope is to risk despair
to try is to risk failure
but risks must be taken
because the greatest hazard in life is to risk nothing 

The pessimist complains about the wind;

the optimist expects it to change;

and the realist adjusts the sail

 

 

(quote from Dr. William A. Ward)





Wisuda, tanda sempurnanya tugas kita…

23 11 2008

 

Tanggal 22 November kemarin, sayimage087a memenuhi undangan dari Universiti Teknologi Malaysia untuk datang ke acara Wisuda bagi mahasiswa “Kolej Kerjasama dengan UTM”. Acara tersebut di adakan di kampus UTM, Skudai, Johor.

Saya menyempatkan datang, karena mahasiswa yang di wisuda kali ini memiliki hubungan yang sangat erat dengan saya. Sejak mereka disemester 1, hingga semester 5, saya selaku Ketua Jurusan kala itu selalu mendampingi mereka, baik dalam pelajaran (saya mengajar mereka setiap semester selama 5 semester) maupun dalam kehidupan pribadi (saya juga bertindak selaku mentor bagi mereka).

Saya masih ingat, di semester 1, ada yang menangis kala itu, karena ‘terkejut’ dengan sistem pendidikan di Perguruan Tinggi, mana mereka jauh dari orang tuanya (tinggal di asrama Kolej). Mereka sempat merasa ‘home sick’, tidak fokus belajar, tidak tahu bagaimana harus membawa diri, dsb. Saya lah yang membimbing mereka kala itu, memotivasi, menemani belajar di Perpustakaan dan sebagainya. Bahkan saya menyempatkan ‘online’ di Yahoo Messanger untuk memastikan mereka baik2 saja dan membuat tugas2 yang diberikan oleh Dosen mereka hari itu.

Tahun kedua, saya masih mendampingi mereka. Ada mahasiswi yang tahun pertama sangat berprestasi, tetapi di tahun ke dua ini, mundur tajam. Saya yang terus memonitor mereka, sempat memanggil mahasiswi ini dan menanyakan mengapa prestasinya mundur.

Ternyata pelajaran di tahun ke dua kebanyakan teori, sedangkan dia lebih menyukai programming dan matematika. Saya cuma tersenyum, akhirnya saya memakai akal sedikit untuk membantunya. Setiap ketemu saya, baik di jalan, di kampus, di cafe atau di manapun, dia harus menghapal semua materi yang diajarkan pada hari itu. Kebetulan saya cukup arif dengan matakuliah tersebut, jadi saya bisa menanyakan apa saja. Akhirnya, mahsiswi ini lulus tahun ke dua, masuk tahun ke tiga.

Di tahun ke tiga, saya cuma mendampingi mereka selama satu semester saja, yaitu di semester 5. Karena ketika mereka masuk ke semester 6, saya menjalankan tugas sebagai Dekan, jadi waktu saya banyak tersita ke arah tugas2 fakultas. Mereka sempat menangis, saya tidak bisa apa-apa. SMS dan chatting menjadi media saya untuk memastikan bahwa mereka baik2 saja.

Akhirnya, di tanggal 22 November 2008 ini, mereka di wisuda. Saya tidak menyangka, rasa haru saya melebihi tahun2 sebelumnya. MUngkin karena hubungan saya dan mereka yang sudah terlampau erat. Begitu nama mereka di panggil di atas pentas, air mata saya menggenang. Ya Allah, sudah selesai saya tunaikan tugas saya bagi mereka.

Usai acara wisuda,  saya beramah tamah dengan keluarga mereka. Ribuan terima kasih dan rasa hormat di sampaikan oleh para orang tua kepada saya. Saya semakin terharu dan menitikkan air mata. Kami ber foto-foto, bersalaman, berpelukan (tentu saja yg perempuan he he he). Hujan deras di Skudai kala itu tidak menghalangi kami untuk saling menyapa dan bergembira.

Saya sendiri punya kejutan yang manis, karena seorang kawan saya, namanya Iffah (asal Indonesia) yang suaminya menjadi Dosen di UTM menyempatkan datang. Lengkaplah kegembiraan saya hari itu. Sungguh 22 November adalah hari yang sempurna. Terima kasih ya Iffah….sayang sekali perjumpaan kita sangat singkat.

Ketika saya berpamitan, saya kembali memandang lekat2 mata mahasiswa/i saya. Masya Allah, mereka sudah di wisuda. Mereka sudah berhasil meraih apa yang diimpikan. Mereka sudah membawa ‘value’ seorang Sarjana yang sudah di tempa untuk menghadapi tantangan hidup di luar sana. Idealnya mereka adalah seorang sarjana yang tangguh, tabah, berketerampilan tinggi dan kompetitif. Dan saya menjadi bagian dari perjalanan mereka. Subhanallah. Semoga Allah melindungi mereka semua, dan semoga Allah menerima hasil kerja saya ini sebagai ibadah di mataNya, amiiiiiiiin.

Wisuda…….. sebuah tanda, tugas kita sebagai pendidik telah selesai. Dan kini saatnya kembali ke kampus, untuk mendampingi mahasiswa/i lainnya, tentu saja dengan tantangan yang berbeda.

Bismillah………





Academics vs Commercials

9 11 2008

Aku dan para Dekan di acara WisudaSaya rasa dunia pendidikan akan terus menerus menghadapi dilema untuk memposisikan diri terhadap aspek komersial. Tidak hanya di Perguruan Tinggi Swasta and Perguruan Tinggi Negeri di Indonesia, tetapi juga Perguruan Tinggi Swasta dan Negeri di Malaysia.

Saya ingat ketika itu saya bekerja di sebuah Univ Swasta di Bandung, di Jalan Halimun tahun 1996 hingga 2002. Pertikaian tajam terjadi di antara kalangan akademik dengan Yayasan. Yayasan tentu saja berfikir bagaimana caranya investasi yang mereka tanamkan di sebuah PTS akan kembali atau menyentuh break event point. Sedangkan kalangan akademik berfikir bagaimana caranya menjaga mutu dan kualitas, agar lulusan yang dihasilkan mampu di serap oleh industri.

Pertikaian biasanya terjadi ketika kalangan akademis mulai melihat perlunya ‘pengembangan’ atau development di sebuah fakultas/jurusan, demi memenuhi tuntutan industri yang bergerak cepat. Permohonan pengembangan tersebut harus di luluskan oleh Yayasan, yang tentunya Yayasan secara otomatis akan melihat segi efisiensi dari permohonan tersebut. Disinilah jalan tengah perlu di musyawarahkan. Disinilah kemampuan untuk berkomunikasi berujung kepada dua kemungkinan, sepakat atau tidak sepakat. Dan disinilah, biasanya pihak Yayasan akan duduk berseberangan dengan pihak akademis.

Bukan saja mengenai pengembangan, ada banyak hal lainnya yang menyebabkan pihak akademis berseberangan dengan Yayasan. Intinya, kedua kubu ini ada kalanya saling bertemu dan berjabatan tangan dan banyak kali bertemu tetapi lain haluan. Akankah ada jalan tengah yang dapat di terima oleh Kalangan Akademis dan juga oleh Aspek Komersial..? Rasanya sulit sekali, karena jalan tengah artinya ada kompromi. Kompromi artinya berbagi, membelah sebuah idealisme untuk mengakomodasi idealisme yang lainnya, yang datang dari dunia dengan aspek fikiran yang berbeda.  

Beberapa minggu yang lalu, hal yang serupa terjadi di Kolej saya. Dalam menjalani tugas sebagai Dekan, saya banyak berurusan dan mengetahui kemelut yang terjadi di kalangan top management. Berbeda dengan di Indonesia (di Bandung tempat saya bekerja dulu tepatnya), pihak Yayasan di Kolej saya ini, terjun langsung ke dalam dunia akademis. Mereka duduk sebagai Managing Director (pimpinan tertinggi, pemegang immunity) dan seorang lagi terjun sebagai Pembantu Rektor 2.

Berdasarkan pengamatan saya, hanya Rektor dan Pembantu Rektor I yang biasanya menyuarakan dan memelihara keseimbangan di setiap kemelut Akademis dan Komersial. Di bawah jajaran top manegement ini, terdapat posisi Direktur Akademik yang membawahi para Dekan. Nah, Direktur Akademik ini, berdasarkan pengamatan saya, lebih banyak melihat aspek komersial di bandingkan yang seharusnya. Jadilah tugas itu bertumpu kepada Dekan, untuk menjalankan setiap keputusan yang diambil oleh para top management. Dekan boleh bersuara, tetapi kuputusan sudah di ambil. Suara Dekan hanyalah berupa justifikasi dari implementasi ke bawah. Berapa lama keputusan itu bisa dijalankan, bagaimana dampaknya, dan seterusnya.

Bayangkan jauhnya kedudukan para Dosen dari segi ini. Dosen hanya fokus untuk mengajar, memastikan kurikulum berjalan seperti yang sudah di gariskan dan mampu memberikan yang terbaik kepada para mhs. Kadang saya memandang Dosen2 saya dengan rasa Iba, krn mereka menjalankan sesuatu yang sesungguhnya dari segi akademis sangat bertentangan.

Satu hari, saya melihat bagaimana Pembantu Rektor I berjuang sendirian dalam mempertahankan kualitas akademik. Rektor entah di mana, tetapi saat itu, rektor tidak mampur berbuat apa-apa.

Masalahnya sederhana, kami tengah menjalankan Franchise Program dengan Univ of East London. Seperti yang sudah di sepakati selama ini, masa pendaftaran mahasiswa adalah hingga tanggal X. Sesudah tanggal X, pendaftaran di tutup dan nama mhs sudah di kirimkan ke London. Franchise program mengharuskan kami berjalan secara paralel dengan London, baik dari segi waktu dan kualitas penyampaian program tersebut.

Pada tanggal Y, terdapat sejumlah mahasiswa international (dari benua Afrika dan Middle East) yang belum mendaftar pada waktunya karena masalah keuangan. Jumlahnya ada 21 orang. Karena kuliah sudah mulai selama 3 minggu, tentu saja pendaftaran sudah di tutup. Tetapi, top management punya pandangan lain, Kuliah BARU MULAI 3 minggu. Tidak ada salahnya, 21 mhs ini mendaftar karena masalah keuangan mereka sudah mampu di atasi. Pada hari Y itu, Pembantu Rektor I membuat keputusan, ke 21 orang mhs tersebut akan mendaftar semester berikutnya, bukan semester ini. Jadi status mereka adalah postpone semester atau cuti selama satu semester. Hal itu bisa mengerti, karena kuliah sudah mulai, Dosen2 pun sudah mengajar paling tidak 1-2 bab. Agak susah untuk mengulang semua materi karena datangya 21 orang mhs ini.

Tetapi ternyata, keputusan Pembantu Rektor I tidak menyenangkan hati top management. Sesudah bertikai dengan tajam, akhirnya, keputusan tersebut di OVERRULED oleh top management. Ke 21 orang mhs tersebut di bolehkan masuk ke dalam kuliah. Masalah bagaimana caranya menyesuaikan pelajaran yang tertinggal, diserahkan kepada Fakultas. Dalam hal ini Dekan. Dalam hal ini Dosen. Kami semua.

Saya ketika itu, agak terkejut, ketika ada  4 orang mhs yang mendaftar di minggu ke-4 kuliah. (dari 21 mhs, 4 orang mhs adalah fakultas saya).

Bagaimana mungkin…? Tetapi keputusan sudah di buat. Saya cuma memandang Pembantu Rektor I tanpa mampu berkata apa-apa. Yah 21 orang x RM 23.000 memang jumlah yang significant. Saya cuma terpekur dan dengan sedih saya harus menyelenggarakan rapat Dosen khusus untuk mengatur ini semua.

Berat mata memandang, lebih berat bahu yang memikul. Itulah kata kiasan saya untuk menggambarkan kalutnya Dosen2 saya menerima kenyataan ini. Saya sendiri mengajar satu matakuliah di sem akhir, terdapat satu mhs yang masuk kuliah saya dari ke 4 mhs tersebut. Hingga hari ini, mhs tersebut memang tunggang langgang untuk mengejar ketinggalannya.

Yah…..inilah dunia akademik. Yang akan terus tertatih tatih untuk memposisikan dirinya terhadap dunia komersial.

** foto di atas adalah foto saya, di antara para Dekan lainnya di sebuah acara Wisuda**





(selingan) Yoga-ku

6 11 2008

yoga1

gambar dari google.com

Sebulan lebih saya rutin melakukan senam Yoga, di down town Mantin seminggu dua kali. Pertama kali rasanya badan seperti di tarik tarik, krn senam ini lebih kepada pernafasan, keseimbangan badan dan ’stretch’. Salah satu bagiannya adalah Yoga Fat Burner yang mengharuskan tangan dan kaki dalam posisi tengkurap untuk menahan tubuh ‘melayang’ selama 3 menit. Lumayan gobyos, kata orang Jawa. Gobyos itu berkeringat banyak.

Yang menyentuh hati saya adalah, ternyata senam Yoga yang saya ikuti ini (instrukturnya Chinese), banyak melakukan gerakan ruku dan sujud. Seperti melakukan sholat saja. Bedanya, ketika melakukan Yoga, saya mendengarkan dan menikmati musik yang sungguh manis, perlahan dan menenangkan. Sedangkan dalam sholat, saya banyak memuji namaNya.

Singkat kata, Yoga membuat saya tenang, bugar, release stress dan tentu saja untuk kesehatan. Semoga kebugaran ini mampu menunjang tugas-tugas saya di hari-hari sibuk yang tidak menentu. Saking banyaknya kerja yang harus di lakukan, kawan saya bilang ” sampai pensiun pun kerja ini tidak pernah habis”. Ha ha ha….iya, betul juga.

Sekarang ini, fakultas saya tengah overlapping tugas dari menyiapkan soal-soal Final Exam, menyiapkan Course File karena MQA (kalau di Indonesia BAN)-proses akreditasi tengah berjalan, ada juga jurusan yang sudah melakukan FInal Exam, jadi tengah marking process dan satu jurusan lainnya tengah menyelesaikan coursework mark yang menuntut redo tugas bagi mhs berkali-kali, krn mhs banyak yang tidak membuat tugas2 mereka secara sungguh-sungguh.

Nah……….di tengah kemelut ‘arus lalu lintas’ fakultas-ku…………dimana best place to escape..?

Yoga lah..:-))