Revisit My Objective

1 08 2008

It has been 6 months (1 semester) I carry my duty as HOD in my office. It has been ups and downs. My faculty is progressing in a good direction, I have enough support from my staff, people are mobile, students are involved with faculty improvement and faculty has achieved the best recognition ever from the government. Yes it was good, we all feel good.

From my own experiences, I feel that I’ve learnt so much about planning both in HR and subject registration of my 8 programs under my care. I learn also about how to synchronize things, how to optimize resources, how to deal with partner of collaborations, how to deal with my staff better and how to face bad things appropriately. It is never been easy. It really ups and down. But I move on.

Now, I want to revisit my objective of taking this HOD position. Why ? Because things have changed. And somehow it effects me, emotionally.

I need to know, could I still stand tall by pertaining my first objective after one semester? People are happy but also there are people who are unhappy. I know that I can not make everyboday happy, but this has forced me to revisit my objective.

People are working but there are also people who take advantage or even abuse the system. I really can not retain my naive perception that everybody is sincere and nice, when the fact shows me that not all of them are like that. I have to be strong and strict when I deal with such people but also at the same time, I have to be approachable and friendly. In short word, I have to be fair. My boss call it as : Situational Manager.  

Today, I have revisited my objective, SUCCESSFULLY. With a help from my best friend, which I beleive it comes from Allah SWT anyway, I think I found already my new objective. I can not share it here, what was my previous objective, and what is it now. I just want to share, that’s my mind  has changed. I am glad I’ve found what I am looking for, as I do beleive, my objective is something that makes me focus in what I do.

After some period, now I feel fresh and energized, since I will know what I am going to do for future onwards. I only hope that Allah SWT will be with me all the time, with His Mercy and His Guidance hopefully Allah will shows me the way, how to get things done. Amin.

Another best friend gave me a wise word.

She said, Deshinta, ” please remember, that Whenever God gives you a tree (responsibility) , He will not forget to provide you water.”  Just do good- God will take care the rest.

I feel that I am newly born with those powerfull words.

I have so many trees in my hand now. But I will show the world, that I can handle it. And in the end, I can make it. I will search water in anywhere, with Allah’s guidance, I beleive I will find the fresh water ever.

Insya Allah.





Minus 1

7 06 2008

 

 Sesudah berpuluh puluh tahun, Allah SWT memberiku kenikmatan untuk melihat segalanya di depan mataku tanpa perantara apa-apa, tanpa bantuan apa-apa, kini Allah SWT Maha Pemilik Segalanya mulai mengurangi kenikmatan yang sudah di anugerahkan kepadaku. Alhamdulillah, aku bersyukur dengan semuanya ini dan aku menjadikannya sebagai peringatan bahwa jarak waktuku denganNya sudah semakin dekat.

Ampuni aku ya Allah, Tuntunlah hambaMu ini dengan kasih sayangMu.

Hari ini, aku resmi berkacamata minus 1.

 





Water Dispenser

29 05 2008

Di kantorku, tepat di depan pintu ruanganku, disediakan sebuah water dispenser, mirip seperti gambar ini, bedanya, di kantorku water dispensernya lebih tinggi.

Setiap bulan, Fakultasku mendapat jatah uang RM130 (Rp.325.000) untuk membeli air minum dan sedikit biskuit untuk para staff.  Biasanya dengan uang itu, 20 galon air minum bisa di dapatkan, dan semua staff fakultas akan mengambil air minum dari dispenser yang ada di depan ruanganku.  Jadi, kadang ruanganku ‘meriah’ karena para Dosen bertemu di sana, sewaktu mengambil air minum dan saling beramah tamah.

Dari sudut pandang management , water dispenser diletakkan di kantor, ya keperluannya untuk itu. Selain untuk menghilangkan dahaga, bersilaturahmi, juga untuk mengetahui apakah staff saya masuk kerja hari ini atau tidak. (jadinya multi purpose)…he he he..

Ternyata, issue water dispenser bisa menjadi issue yang besar. Salah satunya menjadi arena penentuan alokasi air. Serius sekali kesannya kan..? Kebetulan  di blokku, yang terbagi menjadi 6 ruangan, kami ’share’ office dengan English Language Center dan We Care Center. Di ruangan dosen fakultasku, di bilik no 3 tepatnya, Dosen fakultasku share tempat duduk dengan dosen Engineering. Berakibat, alokasi air menjadi issue yang cukup hangat.

Bolehkan Dosen Engineering minum air di kantorku..? Officially, mereka secara ‘geografis’ ada di blokku, artinya, mereka lebih dekat mengambil air di kantorku. Kalau mereka harus mengambil air di fakultas Engineering, mereka harus berjalan cukup jauh.  Tetapi, kalau mereka mengambil air di fakultasku, alokasi dananya kan cuma untuk Dosen fakultasku, bukan untuk mereka. Alokasi dana mereka ada di Fakultas Engineering.

Beberapa dosenku sudah ‘melaporkan’ hal ini, menyatakan bahwa Dosen Engineering suka minum di fakultas Computer Science. Dalam hati, aku tertawa geli…..Duh, masya Allah, kok ya air bisa jadi issue begini.

Akhirnya, saya memanggil dua orang Admin staff saya. Saya menanyakan, apakah sampai sekarang ini, kita masih mampu (dengan dana yang ada) untuk membeli air, tanpa terputus..?

Mereka menjawab, masih mampu. Apakah pernah kita kekurangan uang untuk membeli air ? Mereka menjawab, sampai hari ini, kita tidak pernah kekurangan.

Akhirnya, saya mengambil keputusan Eksekutif, Dosen Engineering boleh minum dari fakultas Computer Science. Ketua Jurusanku cuma manggut manggut. Kalau kita kekurangan uang, atau kehabisan air sebelum jatuh bulan, baru saya akan berunding dengan Fakultas Engineering, ujar saya hati-hati.

Mereka kembali manggut manggut. Entahlah, dalam hatinya bagaimana. Tetapi hati saya terasa lega. Karena kebetulan hari itu, saya membaca sebuah buku agama (lupa judulnya), dan ada pesan yang saya tidak pernah akan lupa Insya Allah.

Pesan itu berbunyi, “Jadilah Pemimpin dengan penuh hikmah..”.

Apakah keputusan saya penuh hikmah atau tidak..? Wallahualam. Saya tidak tahu.

Yang jelas, saya mencoba untuk menerapkan konsep berbagi, konsep bertetangga, konsep rahmat bagi lingkungan. Semoga keputusan saya tidak salah.

Dalam hati, kadang ada ketakutan juga, jatah uang untuk air tidak cukup. Tetapi saya minimalir ketakutan itu dengan perhitungan  yang ada. Anyhow,  It’s just a water.   Just a water.

 





Apa pentingnya ‘meeting’ ?

19 05 2008

Kalau ada yang bertanya pada saya, kapan saya free dari meeting ? Maka jawabannya adalah hampir tidak ada. 

 Aktivitas saya sekarang di kantor adalah meeting, meeting dan meeting. Hari senin, selasa dan rabu biasanya saya akan berada full di fakultas, menguruskan masalah ini dan itu yang melibatkan staff saya dan para ketua jurusan.

Sebentar saja saya duduk tenang di meja, sesudah itu, berdatanganlah staff ke ruangan saya, ada yang minta tanda tangan, ada yang minta nasehat, ada yang bertanya, ada yang mengeluh, ada yang mengaku bersalah telah melakukan sesuatu (nah ini yang paling berat, karena selain saya harus menahan rasa marah, saya pun harus dengan cepat menemukan solusinya). Kecepatan saya dalam berfikir, berpindah topik dari topik yang satu ke topik yang lainnya, kadang membuat saya lelah berfikir.

Tetapi semangat dalam diri, yang menguasai fikiran saya, bahwa saya tengah beribadah kepada Allah, akan membawa fikiran saya tenang dan kepercayaan diri saya menguat, bahwa saya akan mampu menyelesaikan hari ini dengan baik.

Meeting terberat yang harus saya tempuh adalah meeting dengan para top management, Rektor, Managing Directors dan Senior Dy. Rectors. Meeting itu diadakan pada hari Kamis (untuk membahas mahasiswa bermasalah), Jumat pagi (untuk membahas kinerja fakultas) dan Jumat petang (untuk membahas kinerja jurusan).

Biasanya, hasil meeting hari Kamis dan Jumat tersebut saya bawa ke meeting hari Sabtu yang saya gunakan  untuk meeting fakultas atau meeting jurusan yang melibatkan Dosen dan Admin. Saya harap dengan meeting hari Sabtu itu, kinerja fakultas saya akan meningkat dan staff fakultas tahu dengan pasti apa yang harus dilakukan pada hari Senin nanti.

Sebetulnya apa pentingnya sebuah meeting ? Meeting pada hari Kamis dan Jumat yang saya sebutkan di atas, adalah meeting ‘penyiksaan’. Mengapa saya sebut demikian..? Karena saya harus berbesar hati melihat hasil evaluasi fakultas saya, menurun, menaik atau stagnant. Kesalahan proses adalah isue yang tak kunjung habis, yang dilakukan oleh staff fakultas. Baik Dosen ataupun admin, kalau sudah berbuat salah ya salah. Tanggung jawab pertama tentunya hinggap ke pundak para Ketua Jurusan.

Kesalahan yang seperti apa ? Macam-macam ada. Ada Admin yang salah key in pendaftaran matapelajaran. ada Dosen yang lupa key in daftar hadir ke dalam sistem (kami punya sistem online, yang menghendaki dosen key in daftar hadir secara on line SETIAP selesai mengajar). Jika proses key in ini masih belum rampung, tentunya para top management tidak dapat meng-capture data secara benar, sehingga analisis mereka tidak tajam dan tidak akurat dengan aktivitas sehari hari yang terjadi di fakultas.

Dekanlah yang harus memastikan semua proses berjalan seperti yang sudah digariskan, sehingga para pengambil keputusan dapat menjalankan tugas mereka dengan baik. Meeting yang bersifat investigative ini menyebabkan saya harus kembali ekstra mawas diri, dalam menjaga kinerja staff saya, minimal ‘everything must be set’ sebelum hari Kamis. Dan tentu saja idealnya, semua orang akan terbiasa dengan iklim ini, sehingga ada meeting Kamis Jumat atau tidak, semua proses akan berjalan sebagaimana mestinya.

Wajah dekan yang masam atau marah sesudah meeting Kamis dan Jumat adalah hal yang biasa, karena selalu saja ada issue yang terjadi saat meeting. Mungkin hari ini menimpa fakultas X, minggu depan menimpa fakultas Y dan minggu depannya lagi menimpa fakultas saya. Kalau saya tidak mempu menjaga emosi saya dengan baik, tentulah para staff saya akan menjadi bulan-bulanan kemarahan saya setiap hari Kamis dan Jumat. Naudzubillah………saya tidak mau menjadi seperti itu. Saya harus menjadi Dekan yang arif, yang tahu kapan harus menegur dan kapan harus mendengar.

Jadi apa pentingnya meeting ..? Menurut saya meeting adalah sarana komunikasi untuk menyatukan visi dalam menyelesaikan persoalan kini dan masa depan. Setiap pemimpin punya style sendiri dalam menyelenggarakan meeting. Ada yang sampai 2-3 jam, ada yang singkat saja, seperti saya. Saya adalah salah seorang Dekan yang tidak suka dengan meeting yang panjang. Karena menurut saya, meeting adalah starting point, kerja yang sesungguhnya adalah sesudah meeting.

Karena itu, meeting saya dengan para staff paling lama adalah 1 jam. Meeting dengan para Ketua Jurusan paling lama 45 menit. Kalau masalahnya berat, mungkin sampai 1 jam. Jarang sekali saya memimpin meeting lebih dari 1 jam. Kecuali dalam Program Committee Meeting, sebuah meeting di tingkat Jurusan yang melibatkan Staff Perpustakaan, Staff Computer Lab, Mahasiswa, Academic Director dan saya sendiri. Biasanya Ketua Jurusan yang memimpin meeting ini, tetapi kalau Ketua Jurusannya tidak siap, ya siapa lagi, Dekan yang mengambil alih. Meeting ini mengambil waktu minimal 1.5 jam. Agendanya biasanya tentang matapelajaran, apa yang harus ditingkatkan, evaluasi fasilitas, dan seterusnya. Biasanya mahasiswa yang paing banyak bersuara. Dan meeting ini adalah meeting yang paling ditunggu oeh mereka untuk menyatakan pendapatnya.

Jadi apa pentingnya meeting ? Penting sekali. Meeting juga adalah sebuah sarana untuk para pemimpin dalam men-demonstrasikan kehandalannya dalam  memimpin organisasi. Dalam meetinglah, para staff akan melihat, apakah pemimpinnya memahami persoalan dengan baik, Apakah pemimpinnya merupakan pemimpin yang arif. Karena melalui meeting, pemimpin akan berbicara dan dari sanalah, jalan fikirannya akan terbaca.

Yang harus diwaspadai dalam meeting adalah ‘bomb’ yang meledak sewaktu waktu. Bomb apakah itu..? Bomb masalah yang tidak terdeteksi secara dini, yang akhirnya menjadi gumpalan rungutan dan akhirnya ‘pecah’ di saat meeting. Celakanya, dalam meeting akan di tuliskan ‘minute’ sebagai dokumentasi, sehingga ‘bomb’ ini akan menjadi refleksi dari ketidakmampuan pemimpin dalam menyelesaikan masalah yang terjadi.

Bagaimana caranya menghindari bomb ini ? Komunikasi setiap hari. Dekati staff setiap hari, bercakap-cakaplah, bertanyalah, wujudkan rasa peduli pada masalah staff, entah itu masalahnya dalam memahami sistem , fasilitas yang kurang memuaskan atau masalah lainnya. Selesaikan masalah yang ada secepat mungkin, sebelum meeting di adakan. Dengan demikian, sebuah action sudah dijalankan, untuk menghindari bomb ini. Jadi meeting menjadi sarana untuk saling memberikan feedback atas action yang sudah dijalankan, bukan masalah baru. Dengan demikian ‘minute’ yang di dokumentasikan lebih smooth dan menunjukkan sebuah management yang baik, sebuah komunikasi yang baik, yang kondusif untuk meningkatkan kinerja fakultas.

Jadi apa pentingnya meeting ? Selain semua yang saya kemukakan di atas, meeting merupakan sarana untuk mengingat Allah SWT. Bahwa segala kemudahan datang dariNya, dan segala kesusahan datang dariNya juga. Sikap orang bertakwa, karena itu, hanyalah 2. Kalau bukan bersyukur, maka sikap seterusnya adalah bersabar.

HIngga kini, saya tengah memaksakan diri saya untuk berdoa di depan pintu apartemen saya, sebelum saya pergi kerja. Doa sederhana yang panjatkan setiap hari adalah :

“Ya Allah, saya memohon kebaikan pada hari ini, kebaikan dari tempat ini, kebaikan dari orang-orang yang ada di dalamnya dan dari kebaikan yang sudah ada didalamnya. Saya berlindung kepadaMu dari keburukan pada hari ini, keburukan dari tempat ini, keburukan orang-orang yang ada di dalamnya dan keburukan yang sudah ada di dalamnya. Tunjukkan putih itu putih ya Allah, hitam itu hitam. dan berilah petunjuk kepada hambaMu ini, Laa Haula Wala Quwata Illa Billaah.”

Dan saya dalam keadaan pasrah, ikhlas dalam menjalankan tugas. Lillahi Taala.

 





Gaji

19 05 2008

Haduh. Yang satu ini, memang selalu membuat kepala saya ‘mumet’. Pening, bhs Malaysia-nya. Mengapa…? Karena gaji di Kolejku ini belum punya standard yang jelas. Semua karyawannya kontrak, termasuk saya tentunya, per 2 tahun kontrak yang akan di perpanjang kecuali yang bersangkutan mendapat pekerjaan di tempat lain. Memang jarang sekali, hampir tidak pernah, Kolej ku menamatkan kontrak pekerjanya, kecuali ada perkara yang serius terjadi, yang melibatkan kepolisian misalnya (wah ngeri ya, he he he). Artinya, Kolejku ini cukup bermurah hati untuk memberikan hak kepada pegawainya dan perpanjangan kontrak tanpa tedeng aling aling.

 

Tentu, selain kelebihan ada kekurangan. Kekurangan Kolejku ini, kenaikan gaji sangat bergantung kepada prestasi pegawai yang bersangkutan. Dan prestasi itu dinilai oleh para HOD, Head of Department. Lha, syukur alhamdulillah kalau HOD nya baik, kalau tidak…? Habislah masa depan pegawai, bertahun tahun tidak mendapat kenaikan gaji.

Sekarang ini, saya mengalami dilema. Saya memberikan beberapa nama untuk mendapat promosi kenaikan gaji, tetapi masya allah, ada beberapa yang di tolak oleh top management dan membuat saya harus ‘mengeluarkan jurus sakti’ untuk mempertahankan pendapat saya, mengapa pegawai A atau B layak mendapatkan gaji.

Ada yang berhasil, ada yang tidak. Sebagai Dekan yang baik (baca: yang tengah berusaha menjadi Dekan yang baik), saya tidak mau menyerah. Saya harus kembali menghadap para top management, karena saya tidak mau kembali dengan tangan kosong. Kalau A dan B tidak layak mendapatkan kenaikan gaji, maka top mangement harus memberikan saya tantangan, atau minimal clue, apa yang A dan B harus lakukan supaya mereka layak mendapatkan kenaikan gaji. Bukankan A dan B, sama saja dengan pegawai lainnya. Mereka punya hak untuk di training dengan standard tertentu, agak kenaikan gaji itu bisa mereka dapatkan.

Sebuah perjuangan.

Sebuah tugas-ku lagi, yang harus kuemban dan kuselesaikan.

Allah adalah pemilik rezeki, Maha Kaya, aku yakin. Akupun yakin A dan B sudah memanjatkan ribuan doa kepada Allah SWT. Dan kini, aku adalah ‘alat’ yang harus bekerja secara efisien, sehingga doa itu makbul, atas izinNya.

A dan B, saya harap kalian bersabar, saya tengah berjuang. Tolong doakan saya, semoga amanah ini bisa saya jalankan dengan baik, semoga Allah memberikan kemudahan, semoga Allah memberikan kemurahanNya untuk kalian. Saya akan presentasi habis-habisan. Saya akan berjuang untuk meyakinkan mereka, semoga kalian sabar, tahan, kuat, dan tetap berprestasi, menunjukkan kegemilangan. Insya Allah, itulah bekal kita semua, bekal saya khususnya untuk meyakinkan mereka.

*Bismillah*

 





Penilaian

19 05 2008

Salah satu tugasku sebagai Dekan adalah membuat evaluasi atau penilaian terhadap staffku. Di saat genting inilah, kemampuanku untuk meletakkan ‘gap’ yang sesuai di antara diriku dan staff ku, sangat di uji. Jujur, ada beberapa staff yang menjadi favouriteku, karena mereka sangat helpful, prestasinya sangat prima, sangat loyal dan bisa diandalkan. Jujur juga, ada juga staff yang aku tidak ‘menyukainya’ karena mereka banyak ngomong, banyak mengeluh, prestasi kurang dan suka bergosip.

Tetapi di atas kertas inilah, aku harus melihat segala sesuatu secara proporsional. A adalah A, B adalah B. Hitam adalah hitam dan putih adalah putih. Aku membaca petunjuk penilaian itu baik-baik, aku tidak mau berbuat kesalahan. Karena di balik para staff ku ada anak dan istri/suami, Ibu/ayah yang menjadikan mereka seperti apa yang kulihat sekarang.

Aku mulai dengan ucapan Basmallah, ketika evaluasi itu kubuat. Dan aku berusaha dengan hati2 menuliskan butiran angka di setiap nama staffku. Masya Allah, ternyata butiran angka itu, sangat susah untuk di tuliskan. Tidak semudah aku menorehkan deretan angka untuk mahasiswaku.

Dari total 10 staff yang harus kuevaluasi, aku sudah menyelesaikan 8 file. Yang 2 file lagi, aku tangguhkan, karena ada beberapa aspek yang ingin kulihat lagi untuk beberapa saat ke depan.

Aku cuma berharap, aku sudah melakukan evaluasi dengan benar. Sekarang, sudah saatnya aku memanggil staffku, untuk melihat hasil penilaian mereka dan menuliskan komentar di atas kertas itu, apapun bisa mereka tuliskan di sana, termasuk ‘tidak setuju’ dengan hasil penilaianku. Sesudah di levelku selesai, kertas penilaian itu akan di bawa kepada Academic Directors dan selanjutnya akan di berikan kepada HR Department.

Dalam hati aku berdoa, semoga setiap butiran angka yang kutuliskan itu, benar adanya dan bisa aku jawab dengan baik, bukan hanya kepada para staffku, tetapi juga pada Allah SWT. Krn jabatan Dekan ini aku dapatkan dari Allah SWT, dan aku tahu, di hariNya nanti, Allah akan bertanya kepadaku, “Mengapa kau bubuhkan angka…. kepada si A….angka …. kepada si B, dan seterusnya.”

Semoga aku sudah melakukan hal yang benar, dengan petunjukNya. Hari ini, aku menutup 8 file, dan berharap keikhlasan hatiku akan membawa pahala di sana, dari Allah SWT, karena aku sudah menunaikan salah satu tugasku, yang kuawali dengan menyebut namaNya.

Amin.

 





My Envy

20 04 2008

 

These tremendous two months brought me to a new hobby over weekend, it is a long drive at least 15km away from my compound to clear my head after continuous event that suck my energy off.

 

Long, smooth and wide road was the witness how I throw all my problems and negative energy to refill it with fresh air and positive energy that I definitely need them on the upcoming Monday. To be silent, only with my black best friend ‘kelisa’ (my car) and radio that I can switch whenever I want either Malay or Indonesian song, or event western song, I truly got this new hobby as my moment to know myself better and to give my time to hear from my self about what had happened. Usually I will make appointment with my friend, either my own best friends to hang out with, or I will invite my old friend, outside my compund to join me to enjoy the weekend. This is one of the ‘fresh air’ that I need, before I back into my ‘nature’.

 

Maybe I am a bit blue today, that sometimes after I met my friends over the weekend, I experience rollercoaster in my heart. To enjoy with friends, bitterly I have to say, sometimes it works, sometimes it doesn’t. Why would I say like that..? It is because my friends bring their own story as I bring mine as well. From there I could observe and incidentally compare how  their life keep changing and updating.

 

Some of them had just got new job, new relationship and new hope, which it made me do look down into myself, and asking, what about me ? What had I get from my life so far? I do feel blessed with my life, that I have a good job, something that I can be proud with. Just unfortunately as a human, I have my own envy on someone else’s life. It is a human nature, I perfectly aware of that, that is why I consider it is still a normal envy, as long as I don’t miss-used it into something that make me regret later.

 

Well, to make a fast checklist, I do still keep my old job (checked), I do keep my old relationship (checked), which actually I never known where would it be ended and I don’t know what to hope in the future (unchecked) since I survive on monthly basis from my income to get my life moves on.

 

The most updated one about my life is about promotion. Yes, after 5 years serving my college. I am now no more on the middle management, but I am on the top of my department, from a follower to a determiner. Where would my department goes, to which direction, it is all in my hand. I have a huge responsibility toward my employee’s life and whatever I say or I do will make big effect for them. That’s why I need to be extremely careful.

 

A gentle voice whispered in my ear. Is it in Malaysia where should I belong? Is this college a place where should I give all my commitment?  What about someone that I always miss him so much in each and every single day of my life? Did he miss me that much? Did he have a plan about us? I perfectly don’t know.

 

I am alone. No body to turn to. I have my TV on to company me, my lap top as my silent witness of my writing and my rent apartment as my place to secure from daily weather. I am perfectly alone. I have Mom who lives in Bandung, but sometimes I don’t want to disturb her with my envy, she has her own issues and it is part of my life to listen to her, not to throw my problems to her. And that make even my life complete as a lone ranger in the mountain of life. Nothing I can do much, but to get wiser and tougher to deal with my own envy, to get along with my own tears and to find my own strength inside me.

 

I am alone. But I am still surviving, because I have a heart, which never fail to find me a happiness. I feel it is enough. I get what I need, don’t I?

 





Mengapa Bukan Indonesia..??

18 04 2008

Hari ini meeting para Dekan dengan Academic Directors. Salah satu topik pembahasannya adalah ’shortage of Lecturers’, kekurangan tenaga dosen. Ada pertimbangan tertentu dari Kolej kami untuk tidak mengambil orang lokal (Malaysia), salah satunya adalah keinginan orang lokal Malaysia untuk memilih bekerja dengan Kerajaan (pemerintah), dibandingkan swasta. Salah satu alasan lagi adalah masih minimnya jumlah lulusan S2 dan minimnya mutu S2 mereka.

Sesudah membahas peluang untuk melakukan recruitment ke negara lain, pilihan utama jatuh kepada negara India. Bulan depan, Academic Director akan pergi ke India untuk mewawancara calon Dosen disana.

Tentu, saya ingin mereka pergi ke Indonesia. Ternyata, sesudah di bahas, mereka meletakkan Indonesia di peringkat paling bawah untuk tenaga Dosen, dengan alasan utama: Minimnya penguasaan bahasa Inggris. Saya agak keberatan tentu saja. Saya sempat menghubungi rekan2 yang sangat pandai di ITB dulu, untuk mengambil kesempatan ini. Tetapi sesudah mereka tahu, bhw bhs pengantarnya adalah bhs Inggris, lagi2 mereka mundur.

Duh, mirisnya.

Kalau sudah begini, saya mau bilang apa dong ya..??

Akhirnya strategi saya sekarang adalah untuk mencoba merekruit orang2 Indonesia yang tengah study di Malaysia. Minimal mereka tahu, bhs Inggris, budaya dan bagaimana kualitas pendidikan di Malaysia (ada tugas2 dosen di Malaysia, yang belum di lakukan di Indonesia). Terutama lagi, Malaysia lebih mengacu kepada British Education, yang kurang populer di Indoesia.

Semoga satu saat nanti, Academic Director saya akan terbang ke Indonesia untuk mencari Dosen, bukan ke negara lain.

Kawan2, kalau ada yang berminat mengajar di Kolej saya, dan mampu menghadapi tantangan dunia pendidikan, silakan kontak saya yaaaaaaaaaaaaaa

Makasihhhhhh……

 





Membuat Passport Kurang Dari 3 Jam

14 04 2008

Hari ini saya mendapat SMS dari Hotlink, salah satu provider telekomunikasi terbesar di Malaysia. Isinya sebagai berikut:

Kepada WN Indonesia di Malaysia, pelayanan passport di KBRI Kuala Lumpur hanya perlu waktu kurang dari 3 jam. Loket buka pukul 9-17, Senin – Jumat. Tidak perlu datang terlalu awal.

Alhamdulillah….berita tentang kemudahan ini sudah lama saya dengar, kawan2 saya sekantor sudah membuktikannya sendiri. Sekarang membuat passport di KBRI sangat mudah, ujar mereka. Dan sekarang ini, saya mendapat SMS yang berbahasa Indonesia dari sebuah provider terbesar di Malaysia. Sungguh usaha KBRI untuk menyebarluaskan berita itu merupakan langkah yang menakjubkan. Akhirnya, wujud komitmen Pemerintah Indonesia kepada Warganya telah maju selangkah, sudah terbukti.

Rencananya minggu depan saya akan bertandang ke KBRI, untuk memperpanjang passport saya. Belum pernah saya merasa “setenang” dan “seringan” ini untuk melangkahkan kaki ke KBRI, kedutaan bangsaku sendiri. Semoga lancar, amiinn.

 





Megahnya Kampus-ku

14 04 2008

Sudah 5 tahun saya memberikan komitmen kepada Kampus saya, Legenda Education Group, sebagai Dosen dan kini duduk di top management. Berbagai suka dan duka saya alami, terkadang keindahan kampus saya ini, sudah tidak terasa lagi.  Padahal bagi para new comer, sungguh mereka bilang kampusku indah dan megah.

Tahun 2003, saya datang dengan bekal S2 dan pengalaman mengajar selama 8 tahun. Gaji yang saya dapatkan 4 kali lipat di bandingkan gaji saya dulu (sudah termasuk nyambi di mana-mana). Berbekal keberanian untuk berkomunikasi dalam Bhs Inggris, saya mendaratkan kaki di bumi tanah Melayu.

Tertegun saya dengan luasnya bangunan kampus ini. Padahal kampusku ini “cuma” swasta. Tapi pembangunannya sudah menunjukkan komitmen yang tinggi dari pemiliknya terhadap dunia pendidikan.  Mahasiswanya baru sekitar 3000 orang, dengan karyawan seramai kurang lebih 300 orang.  Untuk memasuki kampusku, harus berjalan sekitar 3 km dari jalan utama.

Kampusku megah. Ada ruang perpustakaan yang besar, ada Laboratorium komputer yang banyak. Setiap mhs mendapatkan fasilitas internet gratis. Ada fasilitas hostel bagi setiap mahasiswa, yang membuat kami semua mudah mencari mereka, kalau tiba-tiba menghilang dari kelas (bolos).

Banyak yang bisa diceritakan dari kampus saya ini. Tapi krn malam sudah larut, saya tamatkan dulu disini, nanti saya teruskan lagi.